Adab Berbicara: Kapan Berbicara dan Kapan Diam
Lisan adalah salah satu organ tubuh yang memiliki kekuatan paling besar dalam kehidupan manusia. Dengan lisan, seseorang bisa masuk surga atau terjerumus ke neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Mu'adz bin Jabal ketika ia bertanya tentang amalan yang memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka: "...Dan apakah engkau mengetahui apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka? Dua lubang: mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan sebagai salah satu kunci keselamatan di akhirat.
Adab berbicara dalam Islam mencakup berbagai aspek. Pertama, kejujuran dalam berbicara. Islam melarang keras berbohong dalam segala bentuknya. Rasulullah menyebutkan bohong sebagai salah satu tanda kemunafikan. Sebaliknya, kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa kepada surga. Kedua, memilih kata-kata yang baik. Allah berfirman: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)." (QS. Al-Isra: 53). Memilih kata-kata yang tepat, santun, dan tidak menyakiti perasaan orang lain adalah kewajiban moral setiap Muslim.
Ketiga, adab mendengarkan. Berbicara yang baik tidak lengkap tanpa kemampuan mendengarkan yang baik. Islam mengajarkan agar seseorang mendengarkan pembicaraan orang lain dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan sebelum yang bersangkutan selesai berbicara. Rasulullah adalah contoh terbaik dalam hal ini; beliau selalu memberikan perhatian penuh kepada setiap orang yang berbicara dengannya sehingga orang tersebut merasa bahwa ia adalah orang paling penting di dunia pada saat itu. Keempat, tidak berbicara tentang hal-hal yang tidak bermanfaat. Rasulullah bersabda: "Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat." (HR. Tirmidzi)
Islam secara khusus melarang beberapa jenis ucapan yang berbahaya. Ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba) adalah dua dosa lisan yang sangat serius. Namimah bahkan lebih berbahaya dari ghibah karena tidak hanya merusak kehormatan seseorang tetapi juga menghancurkan hubungan antara orang-orang. Rasulullah bersabda bahwa orang yang berbuat namimah tidak akan masuk surga. Ucapan kotor, cacian, dan sumpah serapah juga dilarang keras dalam Islam. Seorang Mukmin yang sejati, seperti yang dinyatakan Rasulullah, tidak pernah berkata keji, tidak melaknat, dan tidak berperilaku buruk.
Menjaga lisan dari keburukan memerlukan latihan dan mujahadah yang terus-menerus. Beberapa cara praktis yang bisa dilakukan: berpikir sebelum berbicara dengan menanyakan apakah yang akan diucapkan itu benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik. Memperbanyak zikir dan membaca Al-Quran agar lisan terbiasa dengan ucapan-ucapan yang baik. Bergaul dengan orang-orang yang menjaga lisannya agar terpengaruh oleh kebiasaan baik mereka. Dengan menjaga lisan, seorang Muslim menjaga dirinya dari banyak dosa sekaligus menjaga kedamaian dan keharmonisan dalam hubungannya dengan sesama manusia.
References in This Article
Quran
Hadith Collections
Scholars
Related Articles
Adab — Islamic Etiquette and Manners
The Prophetic etiquettes for eating, drinking, sleeping, greeting, visiting, and social interaction.
Haya — Modesty in Islam
The comprehensive Islamic concept of modesty: in dress, speech, behavior, and the gaze. A branch of faith.
Tawbah — Repentance in Islam
The door of repentance: conditions for valid tawbah, major vs minor sins, and the infinite mercy of Allah.
Sabr — Patience in Islam
The virtue that encompasses all trials: patience in worship, patience from sin, and patience with Allah's decree.