Al-Qadr: Takdir Ilahi dan Kehendak Bebas Manusia
Iman kepada al-Qadr (Takdir Ilahi) adalah rukun iman yang keenam, dan barangkali yang paling menantang secara intelektual bagi banyak Muslim. Nabi SAW mendefinisikan iman sebagai keyakinan kepada "Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan bahwa kamu beriman kepada al-Qadr, baik yang baik maupun yang tampak merugikan." (Muslim). Kata-kata "baik dan buruknya" ini penting — seseorang tidak beriman kepada takdir secara parsial; iman kepada takdir berarti menerima bahwa semua yang terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah.
Empat Tingkatan Qadr
Para ulama mengidentifikasi empat komponen iman kepada Qadr. Pertama, 'Ilm (Pengetahuan): Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi, termasuk pilihan-pilihan makhluk-Nya. Kedua, Kitabah (Pencatatan): Allah mencatat segalanya di Lauh Mahfuzh lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Ketiga, Masyi'ah (Kehendak): apa pun yang Allah kehendaki terjadi, terjadi; apa pun yang tidak Dia kehendaki, tidak terjadi. Keempat, Khalq (Penciptaan): Allah adalah pencipta dari semua hal yang ada, termasuk tindakan makhluk-Nya.
Takdir dan Kehendak Bebas
Ketegangan yang tampak antara takdir ilahi dan kehendak bebas manusia telah menjadi perdebatan teologis selama berabad-abad. Posisi Ahlus Sunnah adalah: keduanya nyata. Manusia memiliki kehendak nyata dan pilihan nyata; mereka bertanggung jawab atas pilihan-pilihan itu. Namun kehendak manusia terjadi dalam lingkup kehendak Allah yang lebih besar. Al-Quran menyatakan keduanya: "Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali Allah menghendaki." (76:30) — kehendak Allah mencakup kehendak manusia, tetapi kehendak manusia itu sendiri nyata.
Dua Tingkatan Takdir
Para ulama membedakan antara Qadr Mubram (takdir yang sudah pasti, tidak bisa diubah) dan Qadr Mu'allaq (takdir yang digantungkan, terkait dengan sebab-sebab). Takdir mu'allaq adalah mengapa doa, sedekah, dan silaturrahim dapat mengubah takdir seseorang — mereka adalah sebab-sebab yang telah Allah tetapkan untuk menghasilkan perubahan. Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan." (Tirmidzi).
Sikap terhadap Musibah
Iman kepada Qadr memberikan stabilitas psikologis yang luar biasa dalam menghadapi musibah. Al-Quran berkata: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (64:11). Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan hal itu tidak berlaku kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itupun baik baginya." (Muslim).
References in This Article
Hadith Collections
Scholars
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Tawhid — Islamic Monotheism
The absolute oneness of Allah in His lordship, worship, and names and attributes. The foundation of Islamic theology.
Shirk — Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah — Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.