Perang Khaibar (7 H)
Latar BelakangKhaibar adalah wilayah subur sekitar 150 km di utara Madinah yang dihuni oleh suku-suku Yahudi yang telah berulang kali bersekongkol dengan musuh-musuh Nabi. Banu Nadhir, yang telah diusir dari Madinah karena pengkhianatan, menetap di Khaibar dan aktif menghasut Quraisy dan suku-suku lainnya melawan kaum Muslim selama Perang Khandaq (627 M). Setelah Perjanjian Hudaibiyah menstabilkan situasi dengan Quraisy, Nabi memimpin ekspedisi ke Khaibar pada Muharram 7 H (628 M).Penaklukan BentengKhaibar terdiri dari beberapa benteng yang dipertahankan dengan baik dan menyimpan cadangan maka
nan dan senjata yang besar. Nabi mendekati Khaibar pada malam hari sehingga penduduknya terkejut di pagi hari ketika mereka hendak berangkat ke ladang. Penaklukan berlangsung secara bertahap: satu per satu benteng direbut setelah pengepungan singkat. Benteng yang paling sulit direbut adalah Benteng al-Qamus milik suku Banu Nadhir, yang dipertahankan dengan keras.
Salah satu episode paling terkenal dari Perang Khaibar adalah pengangkatan Ali ibn Abi Thalib sebagai pemimpin pasukan yang akhirnya berhasil menaklukkan Khaibar. Nabi bersabda pada suatu hari: "Besok aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya; ia tidak akan melarikan diri." Para sahabat berebut ingin menjadi orang tersebut, namun Nabi memanggil Ali, meski Ali sedang sakit mata. Nabi menyembuhkan mata Ali dengan air liurnya, kemudian menyerahkan panji kepada Ali, yang kemudian berhasil menaklukkan benteng tersebut.
Setelah penaklukan Khaibar, Nabi mengambil keputusan administratif yang penting. Penduduk Yahudi Khaibar yang masih hidup diizinkan untuk tetap tinggal di tanahnya dan menggarapnya, tetapi harus menyerahkan separuh hasil panen kepada kaum Muslim sebagai jizyah. Perjanjian ini — yang dikenal sebagai sistem muzara'ah (bagi hasil pertanian) — menjadi preseden bagi perlakuan Islam terhadap non-Muslim yang berada di bawah pemerintahan Islam.
Di Khaibar pula terjadi salah satu percobaan pembunuhan terhadap Nabi SAW. Seorang wanita Yahudi bernama Zainab binti al-Harith meracuni daging domba panggang yang diberikan kepada Nabi. Nabi mengambil gigitan pertama tetapi segera meludahkannya setelah Allah memberitahunya bahwa daging itu beracun. Salah satu sahabat yang juga memakannya, Bisyr ibn al-Bara, meninggal akibat racun tersebut. Wanita itu ditangkap dan mengakui perbuatannya; setelah kematian Bisyr, ia dihukum mati.
Perang Khaibar juga menandai bergabungnya beberapa tokoh penting ke dalam Islam. Safiyyah binti Huyay, putri pemimpin Banu Nadhir, masuk Islam setelah penaklukan dan kemudian menjadi salah satu istri Nabi. Selain itu, Abu Hurairah bergabung dengan kafilah Muslim dan mulai mendampingi Nabi secara langsung setelah perang ini — menjadikannya salah satu perawi hadits terbanyak dalam sejarah meski ia baru memeluk Islam relatif terlambat.
References in This Article
Hadith Collections
Related Articles
The Compilation of the Quran
How the Quran was preserved: from oral memorization during the Prophet's life to the standardized mushaf under Caliph Uthman.
The Rashidun Caliphate
The era of the four rightly-guided caliphs: Abu Bakr, Umar, Uthman, and Ali. The golden age of Islamic governance.
The Battle of Badr
The first major battle in Islamic history: 313 Muslims against 1,000 Quraysh, and how divine aid secured victory.
The Battle of Uhud
The second major battle: the reversal of fortune, the wounding of the Prophet, and the lessons for the ummah.