Hadits Qudsi: Riwayat Suci dari Allah
Hadits Qudsi adalah kategori riwayat yang sangat istimewa di mana Nabi Muhammad SAW menyampaikan firman Allah SWT dengan kata-katanya sendiri, berbeda dengan Al-Quran yang merupakan kalam Allah yang diwahyukan secara sempurna dalam lafazh dan maknanya sekaligus. Dengan kata lain, makna dalam hadits qudsi berasal langsung dari Allah SWT sedangkan redaksionalnya adalah dari Nabi SAW sendiri. Ini menjadikan hadits qudsi memiliki kedudukan yang sangat istimewa di antara seluruh hadits Nabi SAW yang mulia.
Para ulama menjelaskan perbedaan mendasar antara Al-Quran dan hadits qudsi dari beberapa aspek yang penting untuk dipahami. Al-Quran adalah wahyu dalam lafazh dan makna sekaligus, merupakan mukjizat yang menantang manusia dan jin untuk menandinginya, wajib dibaca dalam shalat, dan membacanya mendapat pahala per huruf sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi. Hadits qudsi adalah wahyu dalam makna saja bukan dalam lafazh, bukan mukjizat yang bersifat menantang, tidak disyaratkan khusus dalam shalat, dan tidak mendapat pahala per huruf seperti Al-Quran yang mulia.
Di antara hadits qudsi yang paling terkenal dan paling kaya maknanya adalah hadits tentang kasih sayang Allah yang menyatakan bahwa rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya. Ada juga hadits qudsi yang sangat indah tentang taqarrub atau pendekatan diri kepada Allah yang menyebutkan bahwa hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan-amalan sunnah akan mendapat kecintaan Allah yang membawa kemuliaan luar biasa. Hadits qudsi tentang puasa yang sangat terkenal menyebutkan bahwa puasa adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya dengan balasan yang tidak terhingga besarnya.
Imam al-Nawawi dan ulama-ulama lainnya telah mengumpulkan hadits qudsi dalam kitab-kitab tersendiri untuk memudahkan para pelajar mengaksesnya. Kitab yang paling populer dalam bidang ini adalah koleksi 272 hadits qudsi yang menjadi rujukan banyak ulama dan pelajar ilmu hadits. Buku-buku dalam bahasa Indonesia juga telah banyak menyusun koleksi hadits qudsi dengan terjemahan dan penjelasan yang memadai untuk membantu kaum Muslim Indonesia memahaminya.
Dari sisi hukum hadits, hadits qudsi tunduk kepada kaidah-kaidah penilaian yang sama persis dengan hadits Nabi pada umumnya. Ada hadits qudsi yang shahih, ada yang hasan, dan ada yang dha'if. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam meriwayatkan hadits qudsi sebagaimana berhati-hati dengan hadits biasa, terutama di era media sosial di mana hadits-hadits lemah mudah beredar tanpa verifikasi. Kandungan hadits qudsi yang sangat kaya tentang sifat-sifat Allah dan cara mendekatkan diri kepada-Nya menjadikannya sumber inspirasi spiritual yang tak ternilai bagi setiap Muslim.
References in This Article
Scholars
Related Articles
Hadith Classification — Grades and Categories
How scholars grade hadith: sahih, hasan, da'if, and mawdu. The criteria for authentication and their application.
Isnad — The Chain of Narration
The unique Islamic system of tracing reports back to the Prophet through documented chains of human transmission.
An Overview of Hadith Methodology (Mustalah al-Hadith)
How Muslim scholars developed a rigorous science for authenticating and classifying the sayings and actions of the Prophet.
Mustalah al-Hadith: An Introduction to Hadith Terminology
The foundational terms used in hadith sciences: sahih, hasan, da'if, mawdu, mutawatir, ahad, and the criteria for accepting or rejecting a narration.