Hijrah ke Habasyah (Abyssinia)
Hijrah ke Habasyah (al-Habasyah, Ethiopia/Eritrea modern) adalah hijrah pertama dalam sejarah Islam, yang terjadi pada tahun kelima dari misi kenabian (615 M), sekitar delapan tahun sebelum Hijrah ke Madinah. Menghadapi penganiayaan Quraisy yang semakin intens, Nabi menyarankan sekelompok sahabatnya untuk mencari perlindungan di Habasyah, seraya bersabda: "Jika kalian pergi ke negeri Habasyah, kalian akan menemukan seorang raja yang tidak ada seorang pun yang dianiaya di bawahnya. Itu adalah negeri kebenaran, hingga Allah memberikan jalan keluar bagi kalian."
Kelompok Hijrah. Kelompok pertama yang berhijrah terdiri dari sekitar lima belas orang, termasuk Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah (putri Nabi), Zubair bin al-Awwam, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka diam-diam meninggalkan Makkah dan menyeberangi Laut Merah menuju Habasyah, di mana mereka disambut dengan baik oleh al-Najasyi (Negus), raja Kristen Habasyah. Gelombang kedua, yang lebih besar, menyusul kemudian dengan sekitar delapan puluh laki-laki dan sejumlah wanita.
Delegasi Quraisy dan Pembelaan Ja'far bin Abi Thalib. Quraisy mengirim delegasi yang dipimpin oleh Amr bin al-'Ash (sebelum keislamannya) dengan hadiah-hadiah mewah untuk para pembesar Habasyah, meminta agar para pengungsi Muslim dikembalikan. Di hadapan al-Najasyi, Ja'far bin Abi Thalib menyampaikan pembelaan yang sangat berkesan. Ia membacakan ayat-ayat awal Surah Maryam yang menggambarkan kelahiran Nabi Isa dengan penghormatan yang dalam. Al-Najasyi menangis, menyatakan bahwa perbedaan antara ajaran Muhammad dan ajaran Isa tidak lebih dari garis yang ia gambar di tanah, dan menolak permintaan Quraisy.
Kehidupan di Habasyah. Para sahabat tinggal di Habasyah dengan aman dan relatif sejahtera. Beberapa dari mereka mulai menetap dan membangun kehidupan di sana. Ketika berita tentang Islamnya Hamzah dan Umar bin al-Khattab sampai ke Habasyah, sebagian kembali ke Makkah dengan harapan kondisi telah membaik, namun ternyata penganiayaan masih berlanjut. Sebagian besar akhirnya baru kembali setelah Hijrah ke Madinah dan kondisi memungkinkan.
Warisan dan Pelajaran. Hijrah ke Habasyah mengajarkan beberapa pelajaran penting: keberanian untuk mencari perlindungan ketika teraniaya adalah diperbolehkan dan bahkan dianjurkan; hubungan baik dengan Ahli Kitab yang adil dapat dibangun berdasarkan nilai-nilai kebenaran bersama; dan bahwa Islam dari awal menghormati pluralisme dalam batas-batas tertentu. Peristiwa ini juga menandai hubungan historis yang erat antara Islam dan Afrika, serta kebenaran bahwa keadilan tidak hanya ditemukan di lingkungan Muslim saja.
References in This Article
Related Articles
The Compilation of the Quran
How the Quran was preserved: from oral memorization during the Prophet's life to the standardized mushaf under Caliph Uthman.
The Rashidun Caliphate
The era of the four rightly-guided caliphs: Abu Bakr, Umar, Uthman, and Ali. The golden age of Islamic governance.
The Battle of Badr
The first major battle in Islamic history: 313 Muslims against 1,000 Quraysh, and how divine aid secured victory.
The Battle of Uhud
The second major battle: the reversal of fortune, the wounding of the Prophet, and the lessons for the ummah.