Al-Isra wal Mi'raj — Perjalanan Malam dan Kenaikan ke Langit
Al-Isra wal Mi'raj adalah salah satu peristiwa paling luar biasa dalam sejarah kenabian — sebuah perjalanan mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) dalam satu malam. Al-Quran membuka surah yang dinamai peristiwa ini: "Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya" (Al-Quran 17:1). Peristiwa ini terjadi sekitar setahun sebelum hijrah, di tengah-tengah masa paling berat dalam kehidupan Nabi — setelah wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib.
Al-Isra: Perjalanan Malam. Malaikat Jibril mendatangi Nabi di Makkah dan membawanya menunggangi al-Buraq — hewan tunggangan surgawi yang mampu menempuh jarak sejauh pandangan mata dalam satu langkah — menuju Masjidil Aqsha di Yerusalem. Di sana, Nabi memimpin seluruh nabi terdahulu dalam shalat, menegaskan kedudukannya sebagai khatamun nabiyyin (penutup para nabi) dan imam seluruh utusan Allah.
Al-Mi'raj: Kenaikan ke Langit. Dari Masjidil Aqsha, Nabi dinaikkan melewati tujuh lapisan langit. Di setiap langit, beliau bertemu para nabi: Nabi Adam di langit pertama, Nabi Yahya dan Isa di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Setiap pertemuan ini bukan sekadar kunjungan — melainkan pengakuan spiritual atas kepemimpinan tertinggi Nabi Muhammad di antara seluruh para nabi.
Perintah Shalat Lima Waktu. Salah satu hasil terpenting dari Mi'raj adalah penetapan shalat lima waktu. Awalnya Allah memerintahkan lima puluh waktu shalat. Nabi Musa menyarankan agar Nabi kembali dan memohon pengurangan. Hal ini diulang berkali-kali hingga akhirnya ditetapkan lima waktu shalat, namun dengan pahala lima puluh waktu. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat dalam Islam — ia bukan sekadar ritual, melainkan tiang agama yang diperintahkan langsung dari atas tujuh langit tanpa perantara wahyu tertulis.
Makna Teologis dan Spiritual. Para ulama menekankan bahwa peristiwa Isra wal Mi'raj merupakan hiburan dan penguat bagi Nabi setelah tahun kesedihan ('Am al-Huzn). Allah seolah berkata kepada Nabi-Nya: meskipun manusia menolakmu, Aku mengangkatmu ke hadirat-Ku. Peristiwa ini juga menegaskan koneksi suci antara Makkah, Yerusalem, dan langit — menunjukkan kesatuan risalah kenabian dari Ibrahim hingga Muhammad. Bagi umat Muslim, Isra wal Mi'raj bukan hanya peristiwa historis tetapi cerminan hubungan langsung antara Allah dan hamba-Nya yang terpilih.
References in This Article
Hadith Collections
Scholars
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Tawhid — Islamic Monotheism
The absolute oneness of Allah in His lordship, worship, and names and attributes. The foundation of Islamic theology.
Shirk — Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah — Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.