Qadar — Takdir Ilahi dan Predestinasi
Iman kepada qadar (takdir ilahi) adalah rukun iman yang keenam. Al-Quran menyatakan: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran" (Al-Quran 54:49). Keyakinan ini adalah salah satu yang paling sering disalahpahami dalam Islam — baik oleh kaum Muslim itu sendiri maupun oleh orang luar — karena pertanyaan tentang kehendak bebas dan predestinasi adalah salah satu pertanyaan filosofis yang paling mendalam.
Para ulama menjelaskan iman kepada qadar melalui empat tingkatan. Pertama, al-'Ilm: keyakinan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, termasuk semua perbuatan manusia sebelum mereka diciptakan. Kedua, al-Kitabah: Allah telah mencatat semuanya dalam Lauh al-Mahfuzh lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan alam semesta. Ketiga, al-Masyiah: semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Keempat, al-Khalq: Allah adalah pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia.
Iman kepada qadar tidak menafikan kehendak bebas manusia. Ahl us-Sunnah menetapkan bahwa manusia memiliki iradah (kehendak) dan ikhtiyar (pilihan) yang nyata, dan mereka bertanggung jawab atas pilihan-pilihan tersebut. Allah mengetahui pilihan manusia, dan pilihan itu terjadi sesuai dengan ilmu-Nya — namun ilmu Allah tentang pilihan manusia tidak memaksanya untuk memilih. Ini adalah salah satu misteri keesaan Ilahi yang akal manusia tidak dapat sepenuhnya menjangkaunya.
Dua kelompok ekstrem yang sesat dalam masalah qadar adalah: Jabariyyah, yang berpendapat manusia tidak memiliki kehendak sama sekali sehingga tidak bertanggung jawab atas perbuatannya; dan Qadariyyah (Mu'tazilah ekstrem), yang menafikan ilmu Allah yang azali tentang perbuatan manusia dan menganggap manusia menciptakan perbuatannya sendiri di luar pengetahuan Allah. Ahl us-Sunnah mengambil posisi tengah yang sesuai dengan nash Al-Quran dan Sunnah.
Dampak keimanan kepada qadar sangat besar dalam kehidupan seorang Muslim. Ketika ditimpa musibah, ia berkata: "Innalillahi wa inna ilayhi raji'un — sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali" (Quran 2:156), karena ia tahu bahwa semua itu telah ditetapkan Allah. Ia tidak mengizinkan dirinya larut dalam kesedihan berlebihan atas apa yang hilang, karena mengetahui bahwa yang sudah berlalu tidak mungkin kembali. Nabi bersabda: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah... Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata: Seandainya aku lakukan begini atau begitu... tapi katakanlah: Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan" (Sahih Muslim).
References in This Article
Hadith Collections
Scholars
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Tawhid — Islamic Monotheism
The absolute oneness of Allah in His lordship, worship, and names and attributes. The foundation of Islamic theology.
Shirk — Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah — Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.