Pemeliharaan Al-Quran
Pemeliharaan Al-Quran adalah salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah. Tidak ada kitab lain di dunia yang telah terjaga dalam kemurniannya selama 1.400 tahun seperti Al-Quran. Allah sendiri yang menjamin pemeliharaan ini: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al-Quran 15:9). Pemeliharaan ini terwujud melalui dua mekanisme yang berjalan bersamaan dan saling memperkuat: hafalan dan penulisan.
Hafalan di Masa Nabi. Sejak awal turunnya wahyu, Nabi (shallallahu alaihi wa sallam) mendorong para sahabat untuk menghafal Al-Quran. Beliau sendiri hafal seluruh Al-Quran dan secara rutin membacakannya kepada Jibril setiap Ramadan. Para sahabat yang dikenal sebagai huffaz (penghafal) sangat dihormati: Ubay ibn Ka'b, Abdullah ibn Mas'ud, Mu'adz ibn Jabal, dan Zaid ibn Tsabit adalah di antara mereka yang Nabi rekomendasikan sebagai guru Al-Quran. Ketika 70 huffaz gugur dalam Peristiwa Bi'r Ma'unah, seluruh komunitas Muslim merasakan betapa besar keutamaan dan tanggung jawab para penghafal Al-Quran.
Penulisan di Masa Nabi. Al-Quran ditulis secara sistematik di masa Nabi oleh para penulis wahyu (kuttab al-wahy) yang khusus ditunjuk. Di antara yang paling terkenal adalah Zaid ibn Tsabit, Ubay ibn Ka'b, Ali ibn Abi Thalib, dan Muawiyah ibn Abi Sufyan. Mereka menulis di atas berbagai media yang tersedia: tulang belikat unta, pelepah kurma, batu pipih, dan kulit binatang. Setiap ayat yang turun segera ditulis dan Nabi menentukan letaknya dalam surah tertentu.
Pengumpulan di Masa Abu Bakar. Setelah wafatnya Nabi, Khalifah Abu Bakar atas usulan Umar ibn al-Khattab memerintahkan pengumpulan resmi Al-Quran dalam satu mushaf. Zaid ibn Tsabit ditunjuk sebagai ketua karena ia adalah penghafal Al-Quran terkemuka dan pernah hadir dalam pembacaan terakhir Al-Quran oleh Nabi kepada Jibril. Metodologi Zaid sangat ketat: ia tidak menerima sebuah ayat kecuali ada dua saksi yang bersaksi bahwa mereka pernah mendengar langsung dari Nabi. Mushaf Abu Bakar ini kemudian disimpan oleh Umar, lalu oleh putrinya Hafshah.
Standarisasi di Masa Utsman. Ketika penyebaran Islam meluas dan muncul perbedaan bacaan di berbagai wilayah, Khalifah Utsman ibn Affan memerintahkan penyalinan mushaf standar dari mushaf Hafshah. Panitia yang dipimpin Zaid ibn Tsabit menghasilkan beberapa salinan yang dikirim ke berbagai pusat kekuasaan Islam. Mushaf ini โ yang kita sebut Mushaf Utsmani โ adalah teks yang sama persis yang dibaca oleh lebih dari satu miliar Muslim di seluruh dunia hingga hari ini. Tidak ada satu huruf pun yang berbeda antara mushaf yang dicetak di Indonesia, Arab Saudi, Turki, atau belahan dunia mana pun โ kesaksian nyata atas janji Allah untuk memelihara Al-Quran.
References in This Article
Related Articles
Ulum al-Quran โ Sciences of the Quran
The disciplines that serve Quran understanding: revelation history, recitation modes, Arabic rhetoric, and more.
Tafsir Methodology โ Interpreting the Quran
The science of Quran exegesis: its sources, types, major works, and the qualifications of a mufassir.
Naskh โ Abrogation in the Quran and Sunnah
The concept of abrogation: what it means, scholarly views, examples, and common misconceptions.
Prophet Ibrahim (Abraham): The Friend of Allah
The story of Ibrahim, from smashing the idols to the ultimate test of sacrificing his son, and his role as the father of monotheism.