Pengepungan Thaif
Latar Belakang: Setelah HunainSetelah kemenangan di Perang Hunain (Syawal 8 H), Nabi mengejar sisa-sisa kekuatan musuh ke kota Thaif — kota yang makmur di dataran tinggi sekitar 75 km tenggara Makkah, yang dikenal dengan kebun-kebun anggur dan iklimnya yang sejuk. Thaif adalah kota kedua paling penting di Arabia barat setelah Makkah, dan Bani Tsaqif yang menghuni kota itu adalah salah satu suku paling bangga dan berpengaruh di semenanjung. Bagi Nabi, Thaif memiliki memori yang menyakitkan — ini adalah kota yang melemparnya dengan batu ketika ia mencari perlindungan delapan tahun sebelu
mnya, pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan. Kini, dalam kedudukan yang sangat berbeda, Nabi kembali ke Thaif bukan untuk membalas dendam tetapi untuk mengajak mereka kepada Islam.
Pengepungan Thaif berlangsung sekitar dua puluh hari. Bani Tsaqif telah mempersiapkan diri dengan baik: mereka menyimpan perbekalan yang cukup untuk satu tahun atau lebih di dalam benteng mereka yang kokoh, dan menghujani pasukan Muslim dengan anak panah dari atas tembok. Beberapa sahabat gugur dalam pertempuran ini. Kaum Muslim mencoba menggunakan manjaniq (mesin pelempar batu) dan dabbabah (kendaraan berlapis baja) untuk menembus tembok, tetapi gagal karena para pembela Thaif membakar peralatan tersebut dengan besi-besi membara.
Nabi kemudian memutuskan untuk mencabut pengepungan setelah berkonsultasi dengan Nawfal ibn Muawiyah al-Dili, yang memberi pendapat bahwa Thaif bagaikan ular berbisa yang sebaiknya dibiarkan sendirian. Keputusan ini awalnya mengejutkan para sahabat yang bersemangat untuk menaklukkan kota tersebut. Namun Nabi bersabda bahwa mereka akan kembali ke Madinah, dan nubuatnya terbukti benar: tidak lama kemudian, Bani Tsaqif mengirimkan delegasi ke Madinah pada Tahun Delegasi (9 H) dan secara sukarela menyatakan masuk Islam.
Ketika Bani Tsaqif akhirnya datang ke Madinah untuk menerima Islam, mereka mengajukan berbagai syarat. Mereka meminta agar mereka diizinkan tetap menyembah berhala mereka, al-Lata, selama tiga tahun; ketika permintaan itu ditolak, mereka meminta dua tahun, kemudian satu tahun, kemudian satu bulan — semua ditolak. Mereka juga meminta agar shalat dibebaskan dari kewajiban mereka; ini pun ditolak. Akhirnya mereka menerima Islam sepenuhnya tanpa syarat, meski beberapa di antaranya masuk Islam dengan terpaksa dan kemudian menjadi murtad selama Perang Riddah.
Thaif juga menjadi lokasi penemuan warisan masa lalu yang penting. Ketika berhala al-Lata dihancurkan atas perintah Nabi, Abu Sufyan ibn Harb dan al-Mughirah ibn Syu'bah dikirim untuk melaksanakan tugas ini. Penduduk kota menangis melihat berhala yang telah mereka sembah selama generasi demi generasi dihancurkan. Namun penghancuran ini menandai berakhirnya era penyembahan berhala di salah satu pusat terakhirnya di Arabia barat, dan menjadi babak penutup dari proses islamisasi wilayah Hijaz yang dimulai sejak Fathu Makkah.
References in This Article
Hadith Collections
Related Articles
The Compilation of the Quran
How the Quran was preserved: from oral memorization during the Prophet's life to the standardized mushaf under Caliph Uthman.
The Rashidun Caliphate
The era of the four rightly-guided caliphs: Abu Bakr, Umar, Uthman, and Ali. The golden age of Islamic governance.
The Battle of Badr
The first major battle in Islamic history: 313 Muslims against 1,000 Quraysh, and how divine aid secured victory.
The Battle of Uhud
The second major battle: the reversal of fortune, the wounding of the Prophet, and the lessons for the ummah.