Nabi Luth dan Penduduk Sodom
Kisah Nabi Luth alaihissalam adalah salah satu kisah paling dramatis yang diabadikan dalam Al-Quran, diceritakan dalam beberapa surah dengan berbagai sudut pandang yang saling melengkapi. Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim alaihissalam dan merupakan salah satu nabi yang Allah utus kepada kaum yang telah terjerumus dalam kesesatan moral yang sangat dalam. Kisahnya mengandung pelajaran-pelajaran universal tentang konsekuensi dosa, kesabaran para nabi, perlindungan Allah atas hamba-Nya yang beriman, dan kepastian hukuman bagi kaum yang melampaui batas.
Nabi Luth diutus kepada penduduk kota Sodom dan Gomora, yang dalam Al-Quran disebut sebagai Al-Mu'tafikah atau kota-kota yang dibalikkan. Kaum ini telah melakukan dosa besar yang belum pernah dilakukan oleh umat manapun sebelumnya, yaitu perbuatan keji homoseksualitas. Mereka bukan hanya melakukan perbuatan ini secara diam-diam, tetapi bahkan melakukannya secara terang-terangan dan bangga dengannya, bahkan mencoba memaksakan praktik tersebut kepada para tamu yang datang ke kota mereka.
Nabi Luth berdakwah kepada kaumnya selama bertahun-tahun dengan penuh kesabaran, menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan keji dan kembali kepada fitrah yang Allah ciptakan. Namun kaum itu menolak dengan keras bahkan mengancam akan mengusir Nabi Luth jika ia terus berdakwah. Hanya istrinya sendiri yang berkhianat, berpihak kepada kaum yang fasik, sehingga ia termasuk dalam kelompok yang binasa.
Allah SWT kemudian mengutus malaikat-malaikat dalam rupa manusia tampan sebagai tamu kepada Nabi Ibrahim terlebih dahulu, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran Ishaq dan memberitahu bahwa mereka akan menghancurkan kaum Luth. Nabi Ibrahim berusaha membela kaum Luth, namun malaikat menjelaskan bahwa keputusan Allah telah ditetapkan dan tidak bisa ditolak.
Ketika para malaikat tiba di rumah Nabi Luth dalam rupa pemuda-pemuda tampan, penduduk kota segera berdatangan dengan niat jahat. Nabi Luth merasa sangat tertekan dan bersedih, merasa tidak berdaya melindungi tamunya. Pada saat itulah para malaikat memperkenalkan diri dan menyuruh Nabi Luth membawa keluarganya pergi di malam hari tanpa menoleh ke belakang. Ketika fajar tiba, azab Allah turun menghancurkan kota itu: hujan batu dari tanah yang terbakar menghujam dari langit, dan bumi dibalikkan sehingga yang di atas menjadi di bawah. Seluruh penduduk kota yang durhaka binasa, kecuali Nabi Luth dan putri-putrinya. Kisah ini menjadi peringatan abadi bagi seluruh umat manusia bahwa hukum Allah berlaku tanpa pandang bulu.
References in This Article
Related Articles
Ulum al-Quran โ Sciences of the Quran
The disciplines that serve Quran understanding: revelation history, recitation modes, Arabic rhetoric, and more.
Tafsir Methodology โ Interpreting the Quran
The science of Quran exegesis: its sources, types, major works, and the qualifications of a mufassir.
Naskh โ Abrogation in the Quran and Sunnah
The concept of abrogation: what it means, scholarly views, examples, and common misconceptions.
Prophet Ibrahim (Abraham): The Friend of Allah
The story of Ibrahim, from smashing the idols to the ultimate test of sacrificing his son, and his role as the father of monotheism.