Tauhid — Monotheisme Islam
Tauhid adalah konsep sentral Islam: keesaan mutlak Allah. Tauhid bukan sekadar keyakinan bahwa Tuhan itu ada, melainkan pengakuan bahwa Allah satu-satunya Pencipta, bahwa hanya Dia yang berhak disembah, dan bahwa Nama-nama serta Sifat-sifat-Nya adalah milik-Nya semata. Setiap nabi dari Adam hingga Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) datang dengan pesan inti yang sama: Tauhid. Al-Quran menyatakan: "Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia" (Al-Quran 112:1-4).
Tauhid ar-Rububiyyah (Keesaan Ketuhanan)
Kategori ini menegaskan bahwa Allah satu-satunya Rabb (Tuhan) dari seluruh ciptaan. Hanya Dia yang menciptakan, memelihara, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan alam semesta. Tidak ada yang berbagi dalam kedaulatan-Nya. Al-Quran berfirman: "Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara segala sesuatu" (Al-Quran 39:62). Bahkan orang-orang musyrik Quraisy mengakui bentuk Tauhid ini, namun itu tidak cukup untuk menjadikan mereka Muslim, karena mereka tetap menyembah berhala di samping Allah.
Tauhid al-Uluhiyyah (Keesaan Ibadah)
Inilah Tauhid yang didakwahkan semua nabi kepada umat mereka: mengarahkan semua ibadah semata-mata kepada Allah. Shalat, doa, kurban, nazar, rasa takut, harapan, cinta, dan tawakal semuanya harus hanya untuk Allah. Al-Quran berfirman: "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" (Al-Quran 1:5). Inilah Tauhid yang ditolak orang-orang kafir Mekah, dan inilah penerapan praktis monoteisme dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim.
Tauhid al-Asma wa al-Sifat (Keesaan Nama dan Sifat)
Kaum Muslim menegaskan Nama-nama dan Sifat-sifat yang Allah gambarkan untuk diri-Nya dalam Al-Quran dan yang Nabi (shallallahu alaihi wa sallam) tegaskan dalam hadits yang sahih. Nama-nama dan Sifat-sifat ini ditetapkan tanpa ta'til (pengingkaran), tahrif (penyimpangan makna), takyif (mempertanyakan cara), dan tamtsil (penyerupaan dengan makhluk). Imam Malik ketika ditanya tentang Istiwa Allah bersabda: "Istiwa itu sudah dimaklumi, caranya tidak dapat dipikirkan akal, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."
Mengapa Tauhid Penting
Tauhid adalah tujuan penciptaan. Allah berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku" (Al-Quran 51:56). Syirik (mempersekutukan Allah) adalah satu-satunya dosa yang tidak diampuni jika seseorang meninggal dalam keadaan tersebut. Nabi bersabda: "Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun" (Sahih al-Bukhari). Seluruh struktur ibadah Islam — dari shalat hingga mu'amalah — berdiri di atas landasan Tauhid.
References in This Article
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Shirk — Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah — Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.
Tawhid ar-Rububiyyah — Oneness of Lordship
The belief that Allah alone is the Creator, Sustainer, Provider, and Sovereign of all existence.