Tauhid al-Asma wa al-Sifat — Keesaan Nama dan Sifat
Tauhid al-Asma wa al-Sifat adalah penegasan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan Sunnah yang sahih, dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya. Ini berarti menetapkannya tanpa ta'til (pengingkaran atau pengosongan makna), tahrif (penyimpangan makna), takyif (menggambarkan bagaimana caranya), atau tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk). Ayat fondasinya adalah: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Al-Quran 42:11). Ayat ini secara bersamaan menetapkan sifat-sifat (Mendengar, Melihat) dan menafikan segala kemiripan dengan makhluk.
Metodologi Ahlus Sunnah
Pendekatan Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan apa yang Nabi (shallallahu alaihi wa sallam) tetapkan untuk-Nya, serta menafikan apa yang Allah nafikan dari diri-Nya. Imam Malik ketika ditanya tentang Istiwa Allah atas Arsy (Al-Quran 20:5), menundukkan kepalanya, berkeringat, lalu berkata: "Istiwa itu sudah dimaklumi, caranya tidak dapat dipikirkan akal, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Prinsip ini berlaku untuk semua Sifat Allah: kita mengetahui maknanya tetapi bukan hakikat atau caranya.
Tiga Aliran Ahlus Sunnah
Di dalam Ahlus Sunnah, terdapat tiga aliran teologi yang membahas Sifat-sifat Allah. Aliran Atsari (tekstualis), diwakili oleh Ahmad bin Hanbal, Ibn Taimiyah, dan Salaf awal, menetapkan semua Nama dan Sifat berdasarkan makna zahirnya sambil menyatakan bahwa hakikat Allah tidak serupa dengan apapun dalam ciptaan. Aliran Asy'ari, didirikan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari, menetapkan tujuh sifat inti dan menakwilkan beberapa sifat lain seperti Yad (Tangan) dan Wajh (Wajah) secara kiasan. Aliran Maturidi mendekati pendekatan Asy'ari. Ketiga aliran ini dianggap berada dalam lingkup Ahlus Sunnah.
Kategori Sifat-sifat
Para ulama mengklasifikasikan Sifat-sifat Allah ke dalam berbagai kategori. Sifat Dzatiyyah adalah sifat-sifat yang secara permanen melekat pada Dzat Allah, seperti Hayah (Kehidupan), 'Ilmu (Pengetahuan), dan Qudrah (Kekuasaan). Sifat Fi'liyyah adalah sifat-sifat yang berkaitan dengan perbuatan Allah, seperti Khalqu (Penciptaan) dan Istiwa. Sifat Khabariyyah adalah sifat-sifat yang diketahui hanya melalui Al-Quran dan Sunnah, seperti Wajhu (Wajah), Yadayn (Dua Tangan), dan 'Ayn (Mata). Semua ini ditetapkan sebagaimana mestinya tanpa bertanya "bagaimana".
References in This Article
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Tawhid — Islamic Monotheism
The absolute oneness of Allah in His lordship, worship, and names and attributes. The foundation of Islamic theology.
Shirk — Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah — Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.