Jenis-Jenis Rantai Hadits: Dari Mutawatir hingga Mawdhu'
Ilmu hadits mengklasifikasikan hadits berdasarkan berbagai sudut pandang yang berbeda, termasuk berdasarkan jenis dan kualitas rantai perawi atau sanad yang membawa riwayat tersebut dari Nabi SAW kepada kita. Pemahaman yang mendalam tentang jenis-jenis rantai hadits ini sangat penting untuk menilai seberapa valid dan dapat diandalkan sebuah hadits dalam dijadikan hujjah atau dalil dalam hukum Islam sehari-hari.
Dari segi kuantitas perawi di setiap tingkatan sanad, hadits dibagi menjadi mutawatir dan ahad sebagai dua kategori utama. Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh begitu banyak perawi di setiap tingkatan sehingga secara akal dan logika mustahil mereka semua bersepakat untuk berbohong pada waktu yang bersamaan. Hadits mutawatir memberikan keyakinan yang pasti atau yaqin qath'i kepada orang yang mendengarnya. Contoh yang paling jelas adalah hadits-hadits tentang tata cara shalat yang diriwayatkan oleh ribuan orang dari generasi ke generasi tanpa putus.
Hadits ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir dari segi jumlah perawinya. Para ulama membaginya lebih lanjut menjadi tiga kategori yang berbeda. Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh minimal tiga orang perawi di setiap tingkatan sanadnya. Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh minimal dua orang perawi di setiap tingkatan. Gharib adalah hadits yang pada salah satu tingkatan sanadnya hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja tanpa ada perawi lain yang ikut meriwayatkannya pada tingkatan itu.
Dari segi kualitas, hadits dibagi menjadi shahih, hasan, dan dha'if sebagaimana telah dibahas dalam ilmu mustalah. Yang perlu ditambahkan adalah kategori mawdhu' atau palsu yang sebenarnya bukan termasuk hadits sama sekali karena merupakan kebohongan yang dinisbatkan kepada Nabi SAW. Para ulama sangat tegas dan keras dalam memisahkan hadits mawdhu' dari kumpulan hadits yang dapat dijadikan rujukan dalam kehidupan beragama.
Dari segi kebersambungan sanad, hadits dibagi menjadi musnad yang sanadnya bersambung hingga Nabi SAW, mursal yang sahabat tidak disebutkan, munqathi' yang terputus di satu tempat, mu'dhal yang terputus di dua tempat berurutan, dan mu'allaq yang terputus di awal sanad dari sisi perawi tertua. Semua jenis terputusnya sanad ini pada umumnya melemahkan kualitas hadits dan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menilai dapat tidaknya sebuah hadits dijadikan dalil hukum dalam berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam.
References in This Article
Hadith Collections
Related Articles
Hadith Classification — Grades and Categories
How scholars grade hadith: sahih, hasan, da'if, and mawdu. The criteria for authentication and their application.
Isnad — The Chain of Narration
The unique Islamic system of tracing reports back to the Prophet through documented chains of human transmission.
An Overview of Hadith Methodology (Mustalah al-Hadith)
How Muslim scholars developed a rigorous science for authenticating and classifying the sayings and actions of the Prophet.
Mustalah al-Hadith: An Introduction to Hadith Terminology
The foundational terms used in hadith sciences: sahih, hasan, da'if, mawdu, mutawatir, ahad, and the criteria for accepting or rejecting a narration.