Wahyu — Wahyu Ilahi dalam Islam
Wahyu (wahyu ilahi) adalah cara Allah menyampaikan bimbingan-Nya kepada para nabi dan rasul pilihan-Nya. Wahyu adalah fondasi dari seluruh pengetahuan agama dalam Islam. Al-Quran menggambarkan tiga cara komunikasi ilahi: "Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki" (Al-Quran 42:51).
Bentuk-bentuk Wahyu. Para ulama mengidentifikasi beberapa bentuk wahyu yang datang kepada Nabi Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam). Pertama, mimpi yang benar (al-ru'ya al-shadiqah) — ini adalah bentuk pertama wahyu. Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi tidak pernah melihat mimpi kecuali ia menjadi kenyataan bagaikan cahaya fajar (Shahih al-Bukhari). Kedua, wahyu yang disampaikan Jibril langsung ke dalam hati Nabi tanpa wujud yang terlihat. Ketiga, Jibril datang kepada Nabi dalam wujud seorang laki-laki dan menyampaikan wahyu. Keempat — dan yang paling berat — wahyu datang dengan suara seperti bunyi lonceng (diksifkan oleh sahabat), dan ini adalah bentuk yang paling berat bagi Nabi.
Perbedaan Al-Quran dan Hadits Qudsi. Wahyu terbagi menjadi dua kategori utama: Al-Quran yang merupakan kalam Allah baik dalam lafaz maupun makna, dan hadits qudsi yang merupakan makna dari Allah namun disampaikan dengan kata-kata Nabi sendiri. Al-Quran adalah wahyu yang dipelihara secara mutlak: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan Kami pula yang benar-benar memeliharanya" (Al-Quran 15:9). Ini membedakannya dari kitab-kitab terdahulu yang mengalami perubahan dan interpolasi.
Wahyu sebagai Otoritas dalam Islam. Memahami wahyu sangat penting karena ia menentukan posisi Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber hukum yang otoritatif dalam Islam. Para ulama Ahl us-Sunnah menegaskan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan, dan tanpa wahyu, manusia tidak mampu mengetahui secara pasti tentang hal-hal ghaib, tujuan penciptaan, atau cara beribadah yang benar kepada Allah. Wahyu mengisi kekosongan yang tidak dapat diisi oleh akal semata.
Berakhirnya Wahyu. Wahyu berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) pada tahun 11 H. Tidak ada lagi wahyu baru setelah itu. Ini menegaskan kesempurnaan agama Islam: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu" (Al-Quran 5:3). Pengamanan Al-Quran dilakukan melalui hafalan para sahabat dan penulisan yang kemudian dikodifikasikan pada masa Khalifah Abu Bakar dan standarisasi mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan.
References in This Article
Hadith Collections
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Tawhid — Islamic Monotheism
The absolute oneness of Allah in His lordship, worship, and names and attributes. The foundation of Islamic theology.
Shirk — Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah — Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.