Loading...
Loading...
تأسيس الخلافة العباسية
# Pendirian Kekhalifahan Abbasiyah
Pendirian Kekhalifahan Abbasiyah pada 132 H / 750 M merupakan salah satu transformasi politik paling dramatis dalam sejarah Islam. Dinasti Umayyah, yang telah berkuasa selama hampir satu abad, digulingkan oleh sebuah revolusi yang bersumber dari ketidakpuasan keagamaan yang mendalam, keluhan etnis, dan ambisi dinasti. Tatanan baru yang muncul akan memerintah wilayah-wilayah Islam pusat selama lebih dari lima abad.
Gerakan revolusioner Abbasiyah telah berkembang selama beberapa dekade di provinsi-provinsi timur kekhalifahan, khususnya di Khorasan. Gerakan ini memperoleh legitimasinya dari keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muttalib, paman kandung Nabi Muhammad, menjadikan kaum Abbasiyah bagian dari klan Banu Hasyim. Hal ini memberi klaim mereka otoritas keagamaan yang tidak dimiliki oleh kaum Umayyah di mata banyak Muslim yang taat.
Keluhan yang mendorong revolusi ini bermacam-macam. Muslim non-Arab — terutama para mualaf Persia — merasa kesal dengan supremasisme Arab yang menjadi ciri budaya politik Umayyah. Banyak Muslim saleh mengutuk apa yang mereka anggap sebagai kelalaian moral dan keduniawian para khalifah Umayyah. Gerakan Abbasiyah secara cerdik menyalurkan semua keluhan ini di bawah panji luas untuk mengembalikan pemerintahan kepada keluarga Nabi.
Kampanye militer yang menentukan dimulai di Khorasan pada 129–130 H, dipimpin oleh Abu Muslim al-Khorasani. Kekhalifahan Umayyah, yang sudah dilemahkan oleh konflik internal, runtuh dengan cepat yang mengejutkan. Khalifah Umayyah terakhir, Marwan II, dikalahkan di Pertempuran Sungai Zab Besar di Irak pada 132 H dan kemudian terbunuh di Mesir.
Abu al-Abbas al-Saffah diproklamasikan sebagai khalifah Abbasiyah pertama di Kufah pada 132 H. Para Abbasiyah mengkonsolidasikan kemenangan mereka dengan eliminasi sistematis anggota keluarga Umayyah, menandai salah satu suksesi dinasti paling brutal dalam sejarah Islam.
Revolusi Abbasiyah tidak sekadar mengganti satu keluarga penguasa dengan keluarga lain — tetapi mengawali jenis negara Islam yang benar-benar berbeda. Ibu kota pindah dari Damaskus ke Irak, menandakan pergeseran gravitasi kekaisaran ke timur. Kekhalifahan baru sangat mengandalkan tradisi administrasi Persia dan memasukkan Muslim non-Arab ke dalam tingkat pemerintahan tertinggi.
Para khalifah Abbasiyah memposisikan diri bukan sekadar sebagai penguasa politik tetapi sebagai wakil Allah di bumi. Mereka menempatkan diri sebagai pembela ortodoksi Islam dan pelindung keilmuan Islam. Mazhab-mazhab hukum yang besar — mazhab Abu Hanifah, Malik ibn Anas, al-Syafi'i, dan Ahmad ibn Hanbal — semuanya berkembang di bawah patronase Abbasiyah.
Meski penuh kekerasan politik, pendirian Abbasiyah menciptakan kondisi bagi kejayaan peradaban yang luar biasa. Era Abbasiyah menyaksikan penyusunan enam koleksi hadis kanonik, kodifikasi mazhab-mazhab hukum utama, penulisan karya-karya tafsir Al-Qur'an yang agung, serta pengembangan matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat.
Kekhalifahan Abbasiyah bertahan, dalam berbagai bentuk, hingga penjarahan Baghdad oleh Mongol pada 656 H — lebih dari lima abad. Pendirian Abbasiyah pada 132 H menandai berakhirnya supremasi etnis Arab dalam pemerintahan Islam dan awal peradaban Islam multi-etnis yang sesungguhnya, di mana orang Persia, Turki, Berber, dan bangsa-bangsa lain berpartisipasi sepenuhnya.
For the Prophetic era, see the Seerah timeline.