Loading...
Loading...
انطلاق الثورة العباسية مع أبي مسلم الخراساني
Revolusi Abbasiyah, yang dimulai secara terbuka di Khurasan pada 129 H (747 M) di bawah kepemimpinan Abu Muslim al-Khurasani, adalah salah satu pergolakan politik paling transformatif dalam sejarah Islam. Revolusi ini mengakhiri sembilan dekade pemerintahan Umayyah dan menggantinya dengan kekhalifahan Abbasiyah — sebuah dinasti yang akan memerintah dunia Islam selama lima abad dan mengawasi floresiasi terbesar peradaban Islam.
Gerakan Abbasiyah memiliki asal-usul organisasionalnya pada dekade awal abad ke-8, berpusat pada klaim keluarga Abbasiyah — keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muttalib, paman Nabi ﷺ — atas kekhalifahan. Gerakan ini diorganisir sebagai dakwah rahasia — jaringan agen (du'at) yang bekerja di seluruh kekhalifahan untuk merekrut pendukung dan menyebarkan propaganda melawan kesalahan pemerintahan Umayyah.
Khurasan dipilih sebagai panggung utama pemberontakan karena beberapa alasan. Provinsi ini memiliki populasi besar pemukim Arab yang memiliki keluhan sah terhadap pemerintah Umayyah, serta populasi besar Muslim non-Arab (Persia, Sogdian, dan lainnya) yang telah secara sistematis dirugikan oleh kebijakan Umayyah yang menguntungkan elit Arab.
Abu Muslim al-Khurasani adalah salah satu tokoh paling misterius dalam sejarah Islam awal. Asal-usulnya diperdebatkan — beberapa sumber mengklaim ia orang Persia — dan sejarah pribadinya sebelum revolusi tidak jelas. Yang jelas adalah bahwa ia diangkat oleh kepemimpinan Abbasiyah sebagai perwakilan mereka di Khurasan sekitar 127 H, dan ia terbukti memiliki bakat organisasi dan militer yang luar biasa.
Pada Ramadhan 129 H (Juni 747 M), Abu Muslim mengibarkan panji-panji hitam gerakan Abbasiyah di Marw (Merv, di Turkmenistan saat ini), menandai dimulainya pemberontakan terbuka. Warna hitam adalah simbol Abbasiyah, sengaja dikontraskan dengan panji-panji putih Umayyah.
Pemberontakan menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Abu Muslim bergerak dengan efisiensi militer, mengalahkan loyalis Umayyah dalam serangkaian pertempuran di seluruh Khurasan. Gubernur Umayyah Khurasan, Nasr ibn Sayyar, tidak mampu melakukan perlawanan efektif — sebagian karena rivalitas kesukuan Qaysi-Yamani melumpuhkan respons militer Umayyah. Nasr menulis surat-surat putus asa kepada Khalifah Marwan II meminta bala bantuan.
Propaganda Abbasiyah dirancang dengan cermat untuk menarik berbagai lapisan masyarakat Umayyah. Ia menjanjikan pemerintahan sesuai prinsip-prinsip Islam dan Al-Qur'an, perlakuan setara bagi semua Muslim tanpa memandang etnis, dan keadilan atas kesalahan-kesalahan periode Umayyah. Formulasi tentang pemerintahan "keluarga Nabi ﷺ" sengaja cukup ambigu untuk menarik pendukung Syiah dan mereka yang menerima interpretasi Abbasiyah.
Ambiguitas tentang "keluarga Nabi" mana yang akan memerintah disengaja. Banyak pendukung Syiah percaya revolusi akan berujung pada kekhalifahan Alid. Mereka kecewa ketika Abbasiyah mengklaim takhta untuk diri mereka sendiri. Namun saat itu revolusi telah berhasil.
Setelah mengamankan Khurasan, pasukan Abbasiyah bergerak ke barat di bawah beberapa komandan. Tokoh kunci dalam operasi militer yang akan menentukan revolusi adalah Qahtaba ibn Syabib, yang memimpin pasukan Abbasiyah utama dari Khurasan ke Irak. Kufah jatuh ke pasukan Abbasiyah hampir tanpa perlawanan.
Pada Rabi al-Awwal 132 H (Oktober 749 M), imam Abbasiyah Abu al-Abbas Abd Allah, yang telah bersembunyi di Kufah, dibawa keluar dan diproklamasikan sebagai khalifah di masjid Kufah. Ia mengambil gelar al-Saffah. Kekhalifahan Umayyah selama lima dekade di timur berakhir dengan nama; yang tersisa adalah menghancurkan perlawanan Umayyah terakhir di medan perang.
Revolusi Abbasiyah bukan sekadar pergantian dinasti tetapi transformasi dalam karakter kekhalifahan Islam. Kekhalifahan Umayyah pada dasarnya adalah negara suku Arab yang menggunakan Islam sebagai legitimasi ideologisnya. Kekhalifahan Abbasiyah adalah negara Islam multi-etnis yang lebih sejati, di mana tradisi Persia, Sogdian, dan lainnya diintegrasikan bersama tradisi Arab.
Ketergantungan revolusi pada pesan keadilan Islam adalah kekuatan sekaligus kendala permanen pada legitimasi Abbasiyah: setelah berjanji reformasi, Abbasiyah dipegang pada standar perilaku Islam yang sebagian besar telah ditinggalkan Umayyah. Dinamika ini membentuk wacana politik Islam selama berabad-abad.
For the Prophetic era, see the Seerah timeline.