Loading...
Loading...
استشهاد علي بن أبي طالب
Ali ibn Abi Talib, Khalifah Rasyidin keempat dan terakhir, ditebas oleh seorang pembunuh dari kaum Khawarij ketika memimpin shalat Fajr di Masjid Agung Kufah pada bulan Ramadan tahun 40 H (Januari 661 M). Kematiannya menandai berakhirnya era Khulafaur Rasyidin, suatu masa yang dipandang kaum Muslimin sebagai contoh pemerintahan yang paling mendekati teladan Kenabian.
Pembunuhan ini lahir dari dendam kaum Khawarij, sekte yang telah memisahkan diri dari pasukan Ali setelah Pertempuran Siffin dan perjanjian arbitrasi dengan Muawiyah ibn Abi Sufyan. Ali telah mengalahkan kaum Khawarij secara telak dalam Pertempuran Nahrawan pada tahun 38 H, membunuh ribuan pejuang mereka. Para penyintas memendam keinginan pahit untuk membalas dendam.
Tiga orang Khawarij bertemu pada musim haji dan menyusun rencana terkoordinasi untuk menyerang para pemimpin yang mereka anggap bertanggung jawab atas perpecahan umat Islam. Abd al-Rahman ibn Muljam al-Muradi bersedia membunuh Ali di Kufah. Al-Burak ibn Abdullah al-Tamimi ditugaskan untuk membunuh Muawiyah di Damaskus, dan Amr ibn Bakr al-Tamimi mengambil tugas membunuh Amr ibn al-Ash di Mesir. Mereka sepakat untuk melancarkan ketiga serangan pada malam yang sama, yakni malam ke-17 Ramadan, saat shalat Fajr.
Pada pagi yang ditentukan, Ibn Muljam menempatkan diri di dekat pintu masuk masjid sambil membawa pedang berlumur racun. Ketika Ali keluar untuk mengajak orang-orang melaksanakan shalat, berjalan melalui barisan-barisan jamaah, Ibn Muljam menebasnya di kepala dengan mata pedang beracun itu, membelah dahinya hingga pangkal hidung. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ia menebasnya di tempat yang sama dengan luka yang diderita Ali dalam Pertempuran Khandaq bertahun-tahun sebelumnya.
Ali jatuh dan digotong ke kediamannya. Meskipun lukanya parah dan racun terus mengalir di dalamnya, ia tetap sadar dan memberikan petunjuk mengenai urusannya. Ketika Ibn Muljam dibawa ke hadapannya dalam keadaan dirantai, Ali memerintahkan agar tahanan itu diberi makan dan diperlakukan dengan baik, seraya berkata: "Jika aku hidup, aku akan menentukan nasibnya. Jika aku mati, maka pukulah ia satu pukulan sebagaimana ia memukulku, dan janganlah kalian mencincang tubuhnya, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Berhati-hatilah dari mutilasi, meskipun terhadap anjing gila.'"
Kedua percobaan pembunuhan lainnya gagal. Di Damaskus, al-Burak melukai Muawiyah tetapi tidak membunuhnya. Di Mesir, Amr ibn al-Ash kebetulan sedang sakit pada pagi itu, dan penggantinya yang memimpin shalat terbunuh menggantikannya.
Ali bertahan selama dua hari setelah serangan itu. Dalam jam-jam terakhirnya, ia memberikan nasihat kepada kedua putranya, al-Hasan dan al-Husain, dengan kata-kata yang mencerminkan karakter seorang pria yang dibesarkan dalam keluarga Nabi ﷺ. Ia menganjurkan mereka untuk bersikap kasih sayang, adil, dan moderat. Ia memerintahkan mereka agar tidak menumpahkan darah dalam pembalasan melebihi apa yang seharusnya, untuk merawat anak yatim dan tetangga, serta berpegang teguh pada Al-Quran.
Ali ibn Abi Talib wafat pada tanggal 21 Ramadan 40 H dalam usia sekitar enam puluh tiga tahun. Ia dimakamkan di Kufah, meskipun lokasi pasti kuburannya dirahasiakan untuk sementara waktu guna mencegah penodaan oleh kaum Khawarij.
Pembunuhan Ali mengakhiri era Khilafah Rasyidah. Dari empat Khalifah Rasyidin, tiga di antaranya meninggal akibat pembunuhan: Umar ibn al-Khattab, Utsman ibn Affan, dan Ali. Hanya Abu Bakar al-Shiddiq yang wafat secara wajar. Kenyataan pahit ini mencerminkan gejolak komunitas Muslim awal ketika mereka bergulat dengan persoalan pemerintahan, otoritas, dan persatuan pasca wafatnya Nabi ﷺ.
Kaum Muslimin Sunni memandang Ali sebagai Khalifah Rasyidin terakhir dan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga (al-Asyarah al-Mubassyirun). Nabi ﷺ bersabda tentangnya: "Kedudukanmu di sisisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku" (al-Bukhari dan Muslim). Ia adalah anak pertama yang memeluk Islam, suami Fatimah, ayah al-Hasan dan al-Husain, serta salah satu sahabat yang paling berilmu dan pemberani.
Ibn Katsir menulis dalam al-Bidayah wan-Nihayah bahwa kekhalifahan Ali, meskipun diwarnai kekacauan sipil, adalah masa di mana sang Khalifah secara konsisten berusaha mewujudkan rekonsiliasi dan keadilan. Sikapnya selama Fitnah, penahanannya terhadap para penentangnya, dan kata-kata terakhirnya berupa pengampunan kepada pembunuhnya sendiri menjadi kesaksian atas kedalaman iman dan karakternya.
Kaum Khawarij, yang ekstremismenya melahirkan konspirasi ini, menjadi contoh peringatan dalam sejarah Islam tentang bagaimana kesombongan diri yang kaku dan kesiapan untuk mengkafirkan sesama Muslim berujung pada pertumpahan darah dan kehancuran. Nabi ﷺ telah meramalkan kemunculan kelompok seperti ini, menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang "membaca Al-Quran tetapi tidak melewati tenggorokan mereka" (al-Bukhari dan Muslim).
For the Prophetic era, see the Seerah timeline.