Loading...
Loading...
معركة ذات السلاسل
Pertempuran Dhat al-Salasil, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai Ghazwat Dhat al-Salasil (ذات السلاسل), merupakan pertempuran besar pertama dari penaklukan Muslim atas Irak. Berlangsung pada 12 H (633 M) di dekat kota pelabuhan Ubulla di Mesopotamia selatan, pertempuran ini menandai awal berakhirnya dominasi Persia Sassanid atas kawasan tersebut dan mengumumkan kehadiran pasukan Islam di panggung dunia.
Setelah berhasil memadamkan Perang-Perang Ridda, Khalifah Abu Bakr al-Siddiq memusatkan perhatian pada dua kekaisaran besar yang berbatasan dengan Semenanjung Arabia. Kekaisaran Sassanid, meskipun masih tangguh, telah sangat dilemahkan oleh puluhan tahun peperangan melelahkan melawan Kekaisaran Bizantium. Ketidakstabilan internal, pergantian penguasa yang cepat, dan ketegangan ekonomi telah membuat Persia rentan.
Abu Bakr mengutus Khalid ibn al-Walid — komandan yang telah membuktikan dirinya secara menentukan selama Perang Ridda — untuk memimpin pasukan Muslim ke Irak. Khalid diberi komando atas pasukan yang diambil dari beberapa suku, dan ia berbaris ke utara menuju tanah-tanah subur Sawad, jantung pertanian perbatasan Sassanid.
Istana Sassanid, yang telah mendapat kabar tentang kemajuan Muslim, mengutus gubernur perbatasannya, Hurmuz ibn Hurmuz, untuk mencegat pasukan penyerbu. Hurmuz adalah komandan militer berpengalaman yang memegang otoritas atas wilayah-wilayah perbatasan dan dikenal karena perlakuannya yang keras terhadap suku-suku Arab yang hidup di bawah kekuasaan Persia. Ia menghimpun pasukan yang cukup besar di Kazima, dekat pelabuhan strategis Ubulla di Teluk Persia.
Pertempuran ini mendapatkan namanya yang khas dari keputusan taktis Persia untuk merantai tentara-tentara garis depan mereka bersama-sama. Langkah ini, yang digambarkan oleh al-Thabari dan sejarawan lainnya, dimaksudkan untuk mencegah prajurit mana pun melarikan diri dari medan perang. Rantai-rantai itu mengikat kelompok-kelompok pejuang satu sama lain — simbol tekad mereka untuk mempertahankan garis terhadap kemajuan Muslim. Apa yang orang-orang Persia maksudkan sebagai pertunjukan tekad justru menjadi kecelakaan mereka sendiri.
Khalid ibn al-Walid memajukan pasukannya dan menghadapi pasukan Persia di Kazima. Sebelum pertempuran umum dimulai, Hurmuz menantang Khalid untuk duel perseorangan — sebuah praktik umum dalam peperangan era tersebut. Kedua komandan bertemu di antara kedua barisan, dan Khalid membunuh Hurmuz dalam pertarungan perseorangan. Menurut catatan yang disimpan oleh Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, duel ini menghancurkan semangat Persia bahkan sebelum pertempuran utama dimulai.
Dengan komandan mereka yang terbunuh, pasukan Persia menjadi kacau. Kavaleri Muslim menekan keuntungan mereka, menyerang sisi-sisi formasi yang dirantai. Justru rantai-rantai yang dimaksudkan untuk mempertebal tekad Persia kini menjadi perangkap kematian. Prajurit yang jatuh menyeret kawan-kawan yang terikat dengannya ke bawah bersama mereka. Mereka yang ingin mundur mendapati diri mereka terbelenggu kepada orang-orang yang sudah mati dan sekarat. Formasi itu runtuh, dan apa yang tadinya merupakan pertahanan yang tertib berubah menjadi kekacauan.
Pasukan Muslim mengejar orang-orang Persia yang mundur dan merebut kendali atas Ubulla — pelabuhan penting di Teluk Persia dan simpul kunci dalam perdagangan Mesopotamia. Rampasan perangnya cukup besar, termasuk baju besi rantai dan perlengkapan infanteri berat Persia yang indah.
Khalid mengirimkan khums (seperlima bagian rampasan yang diwajibkan Al-Quran) kepada Khalifah Abu Bakr di Madinah. Baju besi rantai Persia dipamerkan di depan umum, menjadi bukti nyata kemenangan dan memperkuat kepercayaan diri komunitas Muslim. Abu Bakr dilaporkan memuji Allah atas kemenangan tersebut dan mendoakan keberhasilan pasukan Muslim yang berkelanjutan.
Pertempuran Dhat al-Salasil memiliki signifikansi jauh melampaui hasil militernya yang segera. Ia menunjukkan bahwa Kekaisaran Sassanid — yang sejak lama dipandang sebagai salah satu dari dua kekuatan besar dunia yang dikenal — bisa dikalahkan dalam pertempuran terbuka. Hal ini menghancurkan aura ketidakmampuan dikalahkan yang menyelimuti kekuatan militer Persia selama berabad-abad.
Secara strategis, penaklukan Ubulla memberi umat Muslim kendali atas pelabuhan komersial besar dan membuka pintu menuju Irak selatan. Khalid akan mengikuti kemenangan ini dengan serangkaian pertempuran cepat — termasuk pertempuran-pertempuran di al-Mazar, Walaja, dan Ullais — masing-masing semakin jauh menembus wilayah Persia dan menghancurkan kendali Sassanid atas Mesopotamia.
Pertempuran Dhat al-Salasil merupakan kesaksian atas kejeniusan militer Khalid ibn al-Walid — yang oleh Nabi Muhammad ﷺ disebut sebagai Sayf Allah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus). Peristiwa ini juga mencerminkan pola yang lebih luas dari ekspansi Islam awal, di mana pasukan Muslim yang relatif kecil namun sangat termotivasi berhasil mengalahkan lawan-lawan yang secara numerik lebih unggul namun dilemahkan oleh perpecahan internal dan konflik berkepanjangan.
Bagi Kekaisaran Sassanid, pertempuran ini merupakan gempa pertama dari bencana yang akan menghancurkan peradaban mereka yang telah berusia enam abad dalam waktu satu dekade. Bagi umat Muslim, peristiwa ini merupakan bab pembuka dari sebuah kampanye yang akan membawa pesan Islam kepada jutaan orang di seluruh Mesopotamia dan Persia — mentransformasi lanskap agama dan budaya kawasan tersebut secara permanen.