Loading...
Loading...
فتح المدائن
Kejatuhan Ctesiphon, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai al-Mada'in ("Kota-Kota"), termasuk dalam peristiwa paling bersejarah pada masa penaklukan Islam awal. Penaklukan ibu kota kekaisaran Sasaniyah oleh pasukan Muslim di bawah komando Sa'd ibn Abi Waqqas menandai berakhirnya kekuasaan kekaisaran Persia di Mesopotamia dan menjadi pertanda cepatnya perluasan Islam ke salah satu peradaban paling mapan di dunia kuno.
Setelah kemenangan menentukan umat Islam dalam Pertempuran al-Qadisiyyah pada tahun 15 H (636 M), kemampuan militer Sasaniyah di Irak pun hancur. Jenderal Persia, Rustam Farrokhzad, telah tewas, dan sisa pasukannya mundur ke timur menuju ibu kota. Khalifah Umar ibn al-Khattab, setelah menerima kabar kemenangan tersebut, memerintahkan Sa'd ibn Abi Waqqas untuk memanfaatkan momentum dan bergerak maju menuju Ctesiphon.
Ctesiphon bukanlah kota biasa. Terletak di tepi Sungai Tigris di tenggara Baghdad modern, kota ini telah berfungsi sebagai ibu kota Sasaniyah selama berabad-abad dan termasuk kota terbesar di dunia saat itu. Jaringan permukiman di kedua tepi Tigris inilah yang memberinya nama Arab al-Mada'in. Di jantung kota ini berdiri istana legendaris Istana Putih, Taq Kasra, yang aula lengkung tonggaknya dengan lengkungan besar yang megah hingga kini tetap menjadi salah satu lengkungan bata bentang tunggal terbesar yang pernah dibangun.
Sa'd menggerakkan pasukannya dari al-Qadisiyyah menuju ibu kota, menemui perlawanan di beberapa titik sepanjang perjalanan. Orang-orang Persia berupaya membuat pertahanan di Burs (Borsippa) dan kembali di Babilon, namun upaya bertahan ini runtuh dengan cepat di hadapan momentum kemajuan Muslim.
Rintangan terbesar adalah Sungai Tigris itu sendiri. Orang-orang Persia telah menghancurkan atau memindahkan semua perahu dari tepi barat, dengan keyakinan bahwa sungai akan menghentikan kemajuan pasukan Arab. Menurut riwayat yang diabadikan oleh al-Tabari dalam Tarikh-nya, Sa'd memerintahkan para prajuritnya untuk menyeberangi sungai dengan menunggang kuda. Pasukan kavaleri memasuki Sungai Tigris yang sedang banjir, dan dengan izin Allah, mereka menyeberang dengan selamat ke tepi timur. Ibn Kathir mencatat dalam al-Bidayah wa'l-Nihayah bahwa para pembela Persia yang menyaksikan dari atas tembok dipenuhi ketakutan melihat para penunggang kuda yang muncul dari sungai, seraya berseru bahwa mereka sedang berhadapan bukan dengan manusia, melainkan dengan jin.
Saat pasukan Muslim mencapai gerbang Ctesiphon, Kaisar Yazdegerd III telah lebih dulu melarikan diri ke timur bersama para pengikutnya dan sisa perbendaharaan kekaisaran. Kota itu jatuh hampir tanpa pengepungan. Penduduk yang tersisa diberikan jaminan keamanan, dan tidak ada penghancuran besar-besaran.
Sa'd ibn Abi Waqqas memasuki Istana Putih dan terpesona oleh kemegahannya. Al-Tabari mencatat bahwa saat melihat aula megah Taq Kasra, Sa'd melantunkan ayat dari Al-Qur'an: "Betapa banyak taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan ladang-ladang serta tempat-tempat tinggal yang mulia, dan kesenangan-kesenangan yang dahulu mereka nikmati. Demikianlah, dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain." (al-Dukhan 44:25-28)
Sa'd kemudian memimpin shalat Jum'at pertama di dalam aula besar istana tersebut, sebuah tindakan yang sarat makna simbolis. Aula yang telah menyaksikan upacara kekaisaran Zoroastrian selama berabad-abad kini bergema dengan lafal adzan dan bacaan Al-Qur'an.
Kekayaan yang direbut di al-Mada'in sungguh luar biasa. Salah satu benda paling terkenal adalah Permadani Baharistan, sebuah permadani ornamental besar yang menggambarkan taman kerajaan, ditenun dengan benang emas, perak, sutra, dan batu berharga. Ketika permadani itu dikirim kepada Khalifah Umar di Madinah bersama rampasan lainnya, Umar memerintahkan permadani itu dipotong-potong dan dibagikan kepada para sahabat, daripada disimpan sebagai satu harta utuh. Ali ibn Abi Talib menerima satu bagian yang konon dijualnya seharga dua puluh ribu dirham, meski hanya sebagian kecil dari keseluruhan permadani.
Pembagian harta rampasan mengikuti ketentuan Al-Qur'an secara ketat. Seperlima (al-khums) dikirimkan ke Madinah untuk perbendaharaan negara, dan empat perlima sisanya dibagikan kepada para prajurit. Besarnya kekayaan yang didistribusikan melalui satu penaklukan ini mengubah kedudukan ekonomi banyak Muslim awal secara signifikan.
Jatuhnya Ctesiphon membawa dampak yang jauh melampaui bidang militer. Peristiwa ini membuktikan bahwa negara Muslim bukan sekadar konfederasi suku yang menyerang perbatasan, melainkan sebuah kekuatan yang mampu menumbangkan kekaisaran-kekaisaran mapan. Dinasti Sasaniyah, yang telah berkuasa lebih dari empat abad dan pernah menyaingi Roma, tidak pernah mampu merebut kembali ibu kotanya.
Bagi peradaban Islam, penaklukan ini membuka pintu bagi keterlibatan mendalam dengan budaya Persia, tradisi keilmuan, dan sistem administrasi. Banyak sistem administrasi yang kemudian diadopsi oleh kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah mengambil model Persia yang pertama kali dijumpai di al-Mada'in.
Lengkungan agung Taq Kasra masih berdiri di Irak modern, saksi bisu dari hari ketika azan pertama kali berkumandang di aula para kaisar Persia, memenuhi janji bahwa Islam akan menjangkau setiap sudut bumi.
For the Prophetic era, see the Seerah timeline.