Loading...
Loading...
تأسيس الكوفة
Pendirian Kufah termasuk dalam keputusan paling bersejarah pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khattab. Apa yang bermula sebagai garnisun militer untuk kampanye Irak kelak menjadi salah satu pusat peradaban Islam terbesar, membentuk perkembangan yurisprudensi, teologi, dan pemikiran politik selama berabad-abad.
Setelah kemenangan-kemenangan menentukan umat Islam di al-Qadisiyyah (14 H / 636 M) dan jatuhnya ibu kota Sasaniyah Ctesiphon (al-Mada'in), pasukan Muslim menguasai wilayah Mesopotamia yang luas. Pasukan awalnya menetap di al-Mada'in sendiri, namun iklimnya terbukti berat bagi para prajurit Arab. Al-Tabari mencatat bahwa kelembaban dan serangga di dataran rendah Tigris menyebabkan penyakit yang meluas di antara garnisun, dan Umar menerima laporan bahwa para prajuritnya jatuh sakit dalam jumlah yang signifikan.
Umar memiliki visi yang jelas untuk wilayah-wilayah yang telah ditaklukkan. Daripada menyebarkan para prajurit Muslim ke dalam kota-kota Persia yang sudah ada di mana mereka bisa kehilangan identitas dan disiplin mereka, ia memerintahkan pendirian kota-kota garnisun yang dibangun khusus — amsar — yang akan berfungsi sebagai pangkalan permanen untuk ekspansi lebih lanjut dan pusat pemerintahan Islam.
Umar mempercayakan tugas ini kepada Sa'd ibn Abi Waqqas, komandan yang telah memimpin umat Islam meraih kemenangan di al-Qadisiyyah dan salah satu dari sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga. Sa'd mengirimkan para pengintai untuk mencari lokasi yang cocok, dan lokasi yang dipilih terletak di tepi barat Efrat, dekat reruntuhan kuno al-Hirah dan tidak jauh dari Babilon. Nama "Kufah" dikatakan berasal dari kata Arab untuk pasir kemerahan (al-kufah) yang ditemukan di lokasi tersebut, meskipun etimologi lain juga dikemukakan.
Lokasi ini menawarkan beberapa keunggulan. Letaknya di tanah yang kokoh dan terangkat dengan iklim yang lebih kering dibandingkan al-Mada'in. Lokasi ini mudah diakses baik melalui jalur darat maupun sungai, menjadikannya simpul alami untuk perdagangan dan logistik militer. Kedekatannya dengan Semenanjung Arabia juga berarti bahwa bala bantuan dan komunikasi dengan Madinah dapat mengalir dengan lebih mudah.
Kufah bukan sebuah pemukiman yang tumbuh tanpa rencana, melainkan sebuah pusat perkotaan yang direncanakan dengan cermat. Di pusatnya berdiri masjid agung (al-masjid al-jami'), yang berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus pusat administratif. Bersebelahan dengan masjid adalah kediaman gubernur (dar al-imarah). Al-Tabari dan al-Baladhuri menggambarkan bagaimana kota ini ditata dalam pola kisi-kisi, dengan jalan utama yang lebar dan kawasan yang dialokasikan untuk berbagai suku Arab.
Kawasan-kawasan kesukuan menjaga kohesi sosial sembari mengintegrasikan kelompok-kelompok yang beragam — suku-suku Yaman, Mudar, Rabi'ah, dan lainnya — ke dalam satu komunitas perkotaan di bawah pemerintahan Islam. Ruang-ruang terbuka disiapkan untuk pasar dan pertemuan publik. Perencanaan yang disengaja ini mencerminkan kecanggihan administratif yang menjadi ciri pendekatan Umar dalam memerintah negara Muslim yang berkembang pesat.
Dalam satu generasi, Kufah berubah dari kamp militer menjadi salah satu ibu kota intelektual dunia Muslim. Abdullah ibn Mas'ud, salah satu Sahabat yang paling berilmu dan seorang spesialis dalam bacaan Al-Qur'an dan fiqih, dikirim oleh Umar ke Kufah sebagai pengajar dan hakim. Kehadirannya mendirikan sekolah keilmuan yang akan melahirkan generasi demi generasi ulama.
Mazhab bacaan Al-Qur'an Kufah menjadi salah satu yang paling berpengaruh, dengan bacaan Asim ibn Abi al-Najud — yang diteruskan melalui Hafs — akhirnya menjadi bacaan yang paling banyak digunakan di dunia Muslim hingga saat ini. Dalam bidang yurisprudensi, tradisi penalaran hukum Kufah, yang dibangun di atas fondasi yang diletakkan oleh Ibn Mas'ud, kemudian disistematisasi oleh Abu Hanifah al-Nu'man menjadi mazhab Hanafi, mazhab terbesar di dunia Muslim.
Kepentingan politik Kufah mencapai puncaknya ketika Ali ibn Abi Talib memindahkan ibu kota kekhalifahan ke sana selama masa pemerintahannya (35-40 H). Kota ini menjadi pusat kekhalifahan Khalifah Rasyidin keempat dan panggung bagi peristiwa-peristiwa bergejolak selama perang saudara pertama. Setelah pembunuhan Ali di masjid Kufah oleh Khawarij Abd al-Rahman ibn Muljam, kota ini tetap menjadi pusat kesetiaan kepada keluarga Nabi Muhammad ﷺ, meskipun kesetiaan ini kerap tidak konsisten, sebagaimana terlihat dalam tragedi Karbala.
Pendirian Kufah, bersama kota kembarnya Basra di Irak selatan, menandai titik balik dalam sejarah Islam. Kota-kota garnisun ini mengubah penaklukan awal dari kampanye militer sementara menjadi proyek peradaban yang permanen. Kufah melahirkan para ulama, ahli fiqih, ahli tata bahasa, dan penyair yang kontribusinya membentuk Islam selama berabad-abad. Kota ini mewujudkan visi Umar yang jauh ke depan dalam membangun institusi-institusi yang akan melampaui para penguasa perorangan dan menopang komunitas umat beriman yang terus berkembang di wilayah yang semakin luas.
Dari sebuah pos militer di tepi Efrat, Kufah tumbuh menjadi kota yang warisan intelektual dan spiritualnya tetap hidup dalam bacaan Al-Qur'an dan praktik hukum Islam hingga hari ini.
For the Prophetic era, see the Seerah timeline.