Loading...
Loading...
الرسالة الحقيقية لعيسى عليه السلام: التوحيد الخالص
Ketika Allah mengutus Nabi Isa ibn Maryam (alaihissalam) kepada Bani Isra'il sekitar tahun 30 M, risalahnya membawa kebenaran esensial yang sama yang diumumkan oleh setiap nabi sejak Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ: sembahlah Allah semata, tanpa sekutu, perantara, atau tandingan. Al-Quran mengabadikan seruan asli ini dalam bentuknya yang paling murni, mencatat kata-kata pertama yang diucapkan Nabi Isa dari dalam buaian: "Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia telah memberiku Al-Kitab dan menjadikanku seorang nabi" (Surah Maryam 19:30). Bahwa pernyataan pembukanya adalah pernyataan kehambaan, bukan ketuhanan, menetapkan secara pasti hakikat Nabi Isa: seorang manusia, yang diciptakan dan diutus oleh Tuhannya.
Nabi Isa datang pada saat agama Bani Isra'il telah mengalami berabad-abad distorsi. Kaum Farisi dan imam-imam bait suci telah mengubur esensi tauhid Nabi Musa di bawah lapisan formalisme ritual, eksklusivitas nasionalis, dan kecintaan pada status duniawi. Mereka memperdagangkan perintah-perintah Allah dengan tradisi-tradisi manusia, menguasai otoritas keagamaan secara monopoli, dan mengubah iman menjadi alat kendali sosial. Ibn Katsir mencatat dalam tafsirnya bahwa para cendekiawan era itu telah begitu sibuk dengan huruf-huruf hukum hingga kehilangan ruhnya sama sekali.
Ke dalam lingkungan inilah Allah mengutus Nabi Isa dengan pesan penghambaan langsung, ibadah batin yang tulus, dan reformasi moral yang radikal. Al-Quran mencatat misinya: "Dan [dia akan menjadi] seorang rasul kepada Bani Isra'il, [yang akan berkata]: 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda dari Tuhanmu'" (Surah Ali Imran 3:49). Ia menyembuhkan orang buta dan penderita kusta atas izin Allah, menghidupkan orang mati atas izin Allah, dan memberitahu orang-orang tentang apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Setiap mukjizat adalah sebuah tanda yang menunjuk bukan pada Nabi Isa sendiri, melainkan kepada Yang Menganugerahinya kemampuan-kemampuan tersebut.
Al-Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa adalah kitab suci ilahi yang autentik — sebuah konfirmasi atas Taurat dengan beberapa modifikasi yang diizinkan Allah. "Dan [aku datang] membenarkan apa yang ada sebelumku dari Taurat dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang diharamkan atasmu" (Surah Ali Imran 3:50). Al-Injil mengandung panduan tentang shalat, puasa, penyucian hati, kepedulian terhadap kaum miskin, dan mengingat kematian serta akhirat. Inti teologisnya identik dengan Taurat sebelumnya dan Al-Quran sesudahnya: la ilaha illa Allah.
Sebagaimana Imam al-Thabari menjelaskan, Nabi Isa tidak datang untuk menghapus syariat Nabi Musa, melainkan untuk memulihkan maksud aslinya dan meringankan beban-beban tertentu yang telah dibebankan kepada Bani Isra'il sebagai konsekuensi ketidaktaatan mereka.
Al-Quran menceritakan sebuah adegan pada Hari Kiamat di mana Allah bertanya secara langsung: "Wahai Isa putra Maryam, apakah kamu berkata kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?'" Nabi Isa menjawab: "Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku untuk mengatakannya. Jika aku pernah mengatakannya, niscaya Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu" (Surah Al-Ma'idah 5:116). Kesaksian ini bersifat definitif. Klaim ketuhanan Nabi Isa adalah rekayasa manusia — sesuatu yang ia sendiri akan ingkari di hadapan Penciptanya.
Konsep Trinitas tidak memiliki landasan dalam pesan asli tersebut. Al-Quran menyatakan: "Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, 'Allah adalah yang ketiga dari yang tiga.' Padahal tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Satu" (Surah Al-Ma'idah 5:73). Tauhid — monoteisme yang mutlak dan tidak terbagi — adalah fondasi seruannya, sebagaimana ia menjadi fondasi setiap misi kenabian.
Di antara elemen-elemen terpenting dari misi Nabi Isa adalah kabar gembira yang ia sampaikan tentang seorang rasul terakhir. Al-Quran mencatat: "Dan ketika Nabi Isa putra Maryam berkata: 'Wahai Bani Isra'il, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad'" (Surah As-Shaff 61:6).
Nubuat ini, yang mengarah kepada Nabi Muhammad ﷺ, merupakan elemen fundamental dari Injil yang sejati. Mereka yang kemudian merusak kitab suci tersebut berupaya untuk mengaburkan atau menafsirkan ulang nubuatan ini. Ibn Taymiyyah dalam al-Jawab al-Shahih membahas secara panjang lebar bagaimana jejak-jejak nubuat ini masih bertahan bahkan dalam teks-teks Alkitab yang telah diubah — khususnya dalam referensi-referensi tentang "Paraklit" dalam Injil Yohanes.
Misi Nabi Isa merepresentasikan sekaligus kesinambungan dan titik balik dalam sejarah kenabian. Ia adalah nabi terakhir yang diutus khusus kepada Bani Isra'il — penutup kenabian Israel. Risalahnya mengkonfirmasi rantai tauhid yang tidak terputus yang terbentang dari Nabi Adam melalui Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan semua nabi di antara mereka.
Memahami pesan sejati Nabi Isa sangat penting bagi umat Muslim, umat Kristen, dan semua yang mencari kebenaran. Islam memuliakan Nabi Isa sebagai salah satu utusan Allah yang teragung — sebuah kalimat dari-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan sebuah ruh dari-Nya. Islam hanya menolak apa yang secara keliru dikaitkan kepadanya setelah kepergiannya: ketuhanan, keputraan, dan kematian pengurbanan yang tidak pernah ia alami. Al-Quran meluruskan catatan sejarah, dan pada Hari Kiamat, Nabi Isa sendiri akan mengkonfirmasinya.