Loading...
Loading...
تولي عمر بن عبد العزيز الخلافة
Naiknya Umar ibn Abd al-Aziz (Umar II) ke kekhalifahan Umayyah pada 99 H (717 M) adalah salah satu peristiwa paling dirayakan dalam sejarah politik Islam. Tidak seperti para pendahulunya, Umar II bukan sekadar administrator yang cakap, melainkan seorang yang memiliki ketakwaan pribadi yang mendalam dan keilmuan agama yang luas, yang berusaha memerintah sesuai prinsip-prinsip para Khalifah Rasyidin.
Umar ibn Abd al-Aziz lahir sekitar 61 H di Madinah. Ayahnya Abd al-Aziz adalah gubernur Mesir dan putra Marwan ibn al-Hakam; ibunya Umm Asim adalah cucu Umar ibn al-Khattab. Ia terdidik di Madinah, kota para ulama dan Sahabat, di bawah cendekiawan generasinya, termasuk faqih Sa'id ibn al-Musayyab. Masa di Madinah membentuk watak intelektual dan spiritual Umar.
Khalifah Suleiman ibn Abd al-Malik yang sekarat, dalam tindakan terakhirnya yang mengejutkan banyak pihak, menunjuk Umar ibn Abd al-Aziz sebagai penggantinya. Keputusan ini dilaporkan dipengaruhi oleh nasihat ulama Raja ibn Haywah, yang menyarankan Suleiman untuk menunjuk kandidat yang paling adil.
Ketika Umar mendengar pengangkatannya, ia dilaporkan diliputi kesedihan bukan kegembiraan. Ia tidak menginginkan kekhalifahan dan memahami beratnya tanggung jawab yang dibawanya. Kisah terkenal tentang bagaimana ia menerima berita tersebut — dilaporkan duduk sendirian di bawah pohon, menangis — dipertahankan dalam berbagai sumber.
Begitu berkuasa, Umar membuat perubahan simbolis dan material segera yang menandakan arah baru. Ia mengembalikan kuda, pakaian mewah, dan barang-barang mahal yang secara kebiasaan menyertai kekhalifahan ke kas umum (bayt al-mal). Ia membubarkan penjaga kehormatan yang megah dan menolak perlengkapan seremonial otoritas kerajaan.
Istrinya Fatimah bint Abd al-Malik, yang terbiasa dengan kemewahan sebagai putri Khalifah Abd al-Malik, ditanya apakah ia akan tetap bersamanya dalam kesederhanaan atau mengembalikan perhiasannya ke kas negara. Ia memilih untuk tinggal.
Kebijakan Umar II mewakili upaya sistematis untuk menerapkan keadilan sesuai Al-Qur'an dan Sunnah di seluruh kekhalifahan.
Ia mengakhiri praktik mengutuk Ali ibn Abi Thalib secara publik yang telah diperkenalkan Muawiyah dalam khotbah Jumat — praktik yang telah sangat menyinggung jutaan Muslim. Menggantikannya dengan pembacaan ayat Qur'ani: "Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, serta memberi kepada kaum kerabat" (16:90).
Ia mengembalikan tanah yang disita secara tidak adil oleh gubernur Umayyah kepada pemilik aslinya atau ke kas umum. Ia membatalkan atau mengurangi tuntutan pajak yang menindas yang telah jatuh secara tidak proporsional pada mualaf non-Arab (mawali). Ia memerintahkan agar jizyah tidak dipungut dari mereka yang benar-benar telah masuk Islam.
Tidak seperti banyak penguasa Umayyah yang memiliki hubungan tegang dengan ulama agama, Umar II secara aktif mencari nasihat para fuqaha. Ia berkorespondensi secara ekstensif dengan tokoh-tokoh seperti Hasan al-Bashri — salah satu ulama terbesar generasi Tabi'i. Surat-surat Hasan al-Bashri kepada Umar tentang masalah takdir (qadar) adalah salah satu dokumen paling signifikan awal sejarah teologi Islam.
Pendekatan Umar terhadap ekspansi militer bersifat konservatif. Ia menghentikan kampanye yang sedang berjalan yang tampaknya lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat, dan berfokus pada mengkonsolidasi dan mengelola dengan adil apa yang telah dimiliki kekhalifahan.
Umar ibn Abd al-Aziz wafat pada Rajab 101 H, setelah memerintah hanya dua tahun lima bulan, dilaporkan diracuni oleh pelayan yang takut konsekuensi reformasinya. Ia wafat dalam usia akhir tiga puluhan.
Warisannya sangat besar. Ia secara konsisten disebut oleh ulama Islam sebagai model penguasa Islam yang ideal: terpelajar, adil, rendah hati, tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari jabatan publik, dan benar-benar berkomitmen pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai batasan pemerintahan. Singkatnya masa pemerintahannya selalu diratapi oleh sejarawan Muslim sebagai tragedi — sekilas tentang apa yang bisa dicapai pemerintahan Islam ketika dikombinasikan dengan ketakwaan dan keilmuan yang tulus.
For the Prophetic era, see the Seerah timeline.