Loading...
Loading...
خلافة يزيد الأول وبداية الفتنة الثانية
Naiknya Yazid ibn Muawiyah ke kursi kekhalifahan pada 60 H (680 M) memicu Fitnah Kedua, periode konflik internal Muslim yang paling dahsyat sejak Fitnah Pertama. Peristiwa ini menghasilkan tragedi Karbala, pemberontakan berkepanjangan Abd Allah ibn al-Zubayr, dan satu dekade ketidakstabilan yang baru berakhir ketika Abd al-Malik ibn Marwan mengonsolidasi kekuasaan Umayyah atas seluruh kekhalifahan.
Ketika Muawiyah ibn Abi Sufyan wafat pada Rajab 60 H, putranya Yazid mewarisi kekhalifahan — suksesi turun-temurun pertama dalam sejarah Islam. Beberapa tokoh terkemuka menolak memberikan baiat kepada Yazid, di antaranya al-Husayn ibn Ali, Abd Allah ibn al-Zubayr, Abd Allah ibn Umar, dan Abd al-Rahman ibn Abi Bakr.
Keberatan mereka bersifat prinsipil: kekhalifahan bukan milik Muawiyah untuk diwariskan. Umat, melalui para ulama dan pemimpinnya, berhak memilih. Yazid juga dikritik karena perilaku pribadinya yang dilaporkan kurang baik, meski keberatan utama bersifat konstitusional.
Rakyat Kufah yang selama ini menjadi pendukung Ali dan keluarganya menulis surat kepada al-Husayn, mendesaknya datang ke Irak dan memimpin mereka melawan pemerintahan Yazid. Al-Husayn mengirim sepupunya Muslim ibn Aqil ke Kufah untuk menilai situasi. Laporan awal Muslim menggembirakan, namun ketika Yazid mengganti gubernur Kufah dengan Ubayd Allah ibn Ziyad yang keras, situasi berubah drastis. Ibn Ziyad menangkap dan mengeksekusi Muslim ibn Aqil, dan para pendukung Kufah menciut di bawah ancaman pembalasan.
Al-Husayn telah berangkat dari Makkah bersama keluarga dan rombongan kecil pendukungnya — sekitar 72 pejuang ditambah perempuan dan anak-anak — sebelum berita kematian Muslim ibn Aqil sampai padanya. Ia terus melanjutkan perjalanan meski mendapat peringatan dari orang-orang yang peduli.
Di padang Karbala di tepi Sungai Efrat, pasukan Ibn Ziyad memotong jalan al-Husayn. Setelah beberapa hari kebuntuan di mana al-Husayn dihalangi dari air dan negosiasi gagal, konfrontasi menentukan terjadi pada 10 Muharram 61 H — Hari Asyura.
Rombongan kecil al-Husayn bertempur hingga mereka gugur. Al-Husayn sendiri, cucu Nabi ﷺ dan putra Ali dan Fatimah, terbunuh. Kepalanya dikirim ke Ibn Ziyad di Kufah dan kemudian ke Yazid di Damaskus. Para perempuan dan anak-anak dari rombongannya ditawan.
Hari Asyura dan syahadah al-Husayn tetap menjadi salah satu peristiwa paling menyedihkan dalam ingatan Islam. Para ulama Sunni menempatkan al-Husayn dalam kedudukan tertinggi sebagai cucu Nabi ﷺ, salah satu pemimpin para pemuda surga, dan seorang pria yang keberanian serta kemuliaannya tidak diragukan.
Kemarahan atas Karbala memperkuat posisi Abd Allah ibn al-Zubayr di Makkah. Setelah Yazid wafat pada 64 H, Ibn al-Zubayr diakui sebagai khalifah di sebagian besar dunia Muslim — Hijaz, Irak, Mesir, dan sebagian Syam — sementara Umayyah di bawah Marwan ibn al-Hakam kemudian Abd al-Malik hanya menguasai Syam.
Fitnah Kedua berlangsung hingga 73 H. Abd al-Malik ibn Marwan menstabilkan Syam melalui Pertempuran Marj Rahit, lalu merebut kembali Irak dengan bantuan panglimanya al-Hajjaj ibn Yusuf. Pada 73 H, setelah pengepungan kedua Makkah, Ibn al-Zubayr terbunuh dan otoritas Umayyah dipulihkan di seluruh kekhalifahan.
Fitnah Kedua meninggalkan bekas permanen dalam sejarah Islam. Bagi umat Islam Sunni, syahadah al-Husayn adalah tragedi yang seharusnya tidak pernah terjadi — akibat janji yang diingkari, kepengecutan politik, dan kekerasan mereka yang memilih kekuasaan duniawi di atas kehormatan yang seharusnya diberikan kepada keluarga Nabi ﷺ. Peristiwa ini juga memperkuat peringatan para ulama tentang bahaya suksesi turun-temurun tanpa akuntabilitas agama.
For the Prophetic era, see the Seerah timeline.