Loading...
Loading...
عبد الله بن عباس
Abdullah ibn Abbas (619-687 M) adalah sepupu dari pihak ayah Nabi Muhammad dan salah satu sahabat yang paling berilmu. Ia lahir tiga tahun sebelum Hijrah di lembah Abu Talib pada masa pemboikotan Quraysh terhadap Banu Hashim. Nabi secara khusus berdoa untuknya, beliau bersabda, "Ya Allah, berikanlah ia pemahaman tentang agama dan ajarilah ia tafsir (al-Quran)." Doa ini dikabulkan dengan berlimpah, sehingga Ibn Abbas mendapat gelar Tarjuman al-Quran (Penafsir al-Quran) dan Habr al-Ummah (Ulama Umat).
Meskipun baru berusia tiga belas tahun ketika Nabi wafat, Ibn Abbas telah menghabiskan masa mudanya di dekat Nabi dan terus menimba ilmu dari para sahabat senior seperti Umar, Ali, Ubayy ibn Kab, dan Zayd ibn Thabit. Ia dikenal memiliki daya ingat yang luar biasa dan ketajaman analisis yang tinggi. Ia mampu melantunkan syair, membahas sejarah bangsa Arab, dan menjelaskan al-Quran dengan kedalaman yang mengagumkan bahkan para sahabat paling senior sekalipun. Umar ibn al-Khattab kerap mengikutsertakan Ibn Abbas yang masih muda dalam majelis musyawarahnya bersama para lelaki yang jauh lebih tua darinya, dan ketika ditanya soal ini, Umar mengatakan bahwa hal itu karena keunggulan ilmunya.
Ibn Abbas mendirikan majelis ilmu yang besar di Mekah yang melahirkan satu generasi penuh ulama. Para muridnya, di antaranya Mujahid ibn Jabr, Ikrimah, Said ibn Jubayr, dan Ata ibn Abi Rabah, menjadi otoritas terkemuka pada generasi berikutnya. Ia meriwayatkan sekitar 1.660 hadith dan pendapat-pendapat tafsirnya menjadi tulang punggung ilmu tafsir al-Quran klasik. Ia pernah menjabat sebagai gubernur Bashrah pada masa kekhalifahan Ali dan dikenal karena kedermawanan serta kefasihannya. Penglihatannya melemah di usia senja, dan ia wafat di Thaif pada tahun 68 H (687 M).
No linked books yet.