Loading...
Loading...
أحمد بن عطاء الله السكندري
Ahmad ibn Muhammad ibn Ataillah as-Sakandari (sekitar 658-709 H / 1260-1309 M) adalah seorang ahli fikih Maliki, ulama hadith, dan syaikh ketiga dalam Thariqah Shadhiliyyah, yang menjadi salah satu pengarang terpenting dalam sejarah spiritualitas Islam. Lahir di Alexandria, ia awalnya mempelajari fikih Maliki dan hadith, dan bersikap skeptis terhadap tasawuf. Pertemuannya dengan Abu al-Abbas al-Mursi (syaikh kedua Thariqah Shadhiliyyah) mengubah pandangannya, dan ia pun menjadi murid yang setia.
Karya Ibn Ataillah yang paling masyhur adalah Al-Hikam al-Ata'iyyah (Hikmah-Hikmah Ata'iyyah), sebuah kumpulan aphorisme spiritual yang merangkum inti kebijaksanaan rohani Islam dalam pernyataan-pernyataan yang ringkas dan mudah diingat, mengenai hubungan antara hamba dengan Allah, hakikat tawakkul, rasa syukur, kesabaran, dan keikhlasan. Al-Hikam telah menjadi subjek puluhan syarah dan dihafal serta dikaji secara luas di seluruh dunia Islam. Ia juga mengarang Lata'if al-Minan (tentang keutamaan para syaikh Shadhiliyyah), Al-Tanwir fi Isqat at-Tadbir (tentang kepasrahan spiritual kepada kehendak ilahi), dan Miftah al-Falah (tentang amalan dzikir).
Ibn Ataillah dikenal sebagai orang pertama yang menulis dan mendokumentasikan ajaran-ajaran spiritual Shadhiliyyah, karena baik Abu al-Hasan ash-Shadhili maupun Abu al-Abbas al-Mursi tidak pernah mengarang kitab. Ia juga merupakan tokoh yang terlibat dalam perdebatan terkenal dengan Ibn Taymiyyah mengenai keabsahan amalan-amalan tasawuf. Ia wafat di Kairo pada tahun 709 H (1309 M). Al-Hikam-nya tetap menjadi salah satu teks yang paling dicintai dan paling luas dikaji dalam spiritualitas Islam, digunakan oleh para ulama maupun kalangan awam dari berbagai mazhab.
No linked books yet.