Loading...
Loading...
عز الدين عبد العزيز بن عبد السلام السلمي الدمشقي
Izz al-Din Abd al-Aziz ibn Abd al-Salam al-Sulami (578–660 H/1182–1262 M) adalah one dari most terpandang Syafi'ite para ulama dari abad pertengahan Islam, given title "Sultan dari Scholars" (Sultan al-Ulama) untuk his extraordinary combination dari legal mastery, political courage, dan spiritual otoritas. Ia adalah lahir di Damaskus dan studied there under leading para ulama dari Suriah.
Ia menjadi leading ahli fiqih dari Damaskus dan later dari Mesir, di mana Ayyubiyah dan kemudian Mamluk sultans sought his hukum-hukum pada matters dari law. Ia adalah most famous untuk his hukum yang Mamluk soldiers yang telah menjadi slaves — dan yang telah menjadi sold dan resold as commodities — memiliki tidak legal right ke hold political otoritas hingga they redeemed themselves dari their slave status. He reportedly ordered public auction di Kairo di yang Mamluk amirs memiliki ke purchase their own freedom sebelum they dapat legitimately govern. This act dari extraordinary ahli fiqihic courage made him both feared dan respected.
His major theoretical work Qawa'id al-Ahkam fi Masalih al-Anam (Rules dari Rulings pada Interests dari People) laid theoretical foundation untuk concept dari maslaha (public interest) as source dari hukum Islam, alongside rigorous framework untuk understanding higher objectives dari Sharia. This work pengaruhd all subsequent discussions dari maqasid al-sharia ( objectives dari hukum Islam).
He wafat di Kairo di 660 H, having witnessed Mongol invasions dari east dan having helped organize Mamluk resistance. His fatwa authorizing Mamluk army ke collect forced loans untuk defense against Mongols di Battle dari Ain Jalut (1260 M) adalah dianggap one dari most consequential legal decisions di abad pertengahan sejarah Islam.
No linked books yet.