Loading...
Loading...
الليث بن سعد
Imam
Al-Layth ibn Sa'd (713–791 M) adalah ulama terkemuka Mesir pada abad kedua Islam dan dipandang oleh banyak orang sebagai setara, bahkan melebihi, Imam Malik dalam bidang fiqih. Imam asy-Syafi'i sendiri pernah berkata, "Al-Layth lebih luas ilmunya dalam fiqih daripada Malik, namun para sahabatnya tidak melayaninya dengan baik," yang berarti para muridnya gagal mencatat dan menyampaikan pendapat-pendapat hukumnya secara sistematis sebagaimana yang dilakukan murid-murid Malik.
Al-Layth dilahirkan di Qarqashandah, sebuah desa dekat Fustat (Kairo lama), dari keluarga berketurunan Persia. Ia melakukan banyak perjalanan untuk mempelajari hadits, berguru kepada para ulama di Makkah, Madinah, dan berbagai penjuru dunia Islam. Ia istimewa di antara ulama-ulama besar karena memadukan keilmuan agama yang mendalam dengan kekayaan pribadi yang sangat besar, dengan penghasilan yang dilaporkan mencapai delapan puluh ribu dinar per tahun dari lahan pertanian dan perdagangannya. Namun ia terkenal dengan kedermawanannya yang luar biasa, menginfakkan seluruh penghasilannya setiap tahun. Ketika Imam Malik pernah mengiriminya hadiah berupa kurma, al-Layth membalasnya dengan sebuah kafilah yang sarat dengan hadiah bernilai berkali-kali lipat lebih banyak.
Al-Layth bertugas sebagai kepala ulama dan hakim tidak resmi di Mesir, dan pendapat-pendapat hukumnya membentuk kehidupan keagamaan wilayah tersebut selama beberapa dekade. Ia mengarang banyak karya di bidang hadits dan fiqih, meskipun sebagian besar tidak bertahan hingga kini. Mazhab Maliki dan kemudian mazhab Syafi'i pada akhirnya menggantikan mazhabnya di Mesir, bukan karena kelemahan keilmuannya, melainkan karena para muridnya tidak membukukan ajaran-ajarannya dengan ketelitian yang sama. Ia wafat di Kairo pada tahun 175 H (791 M).
No linked books yet.