Loading...
Loading...
القاسم بن محمد
Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr (38-108 H / 660-728 M) adalah salah satu dari Tujuh Fuqaha (ahli hukum) Madinah di kalangan Tabiin dan salah satu otoritas hukum serta agama yang paling dihormati di kota Nabi pada akhir abad pertama dan awal abad kedua Hijriah. Beliau adalah cucu dari khalifah pertama Abu Bakr as-Siddiq melalui ayahnya Muhammad ibn Abi Bakr, yang telah terbunuh di Mesir dalam konflik-konflik sipil. Yatim piatu sejak usia muda, al-Qasim diasuh oleh bibi dari pihak ayahnya, yaitu Aisha bint Abi Bakr, istri Nabi dan ulama wanita terbesar dalam sejarah Islam.
Pengasuhan al-Qasim di rumah tangga Aisha memberinya pembentukan keilmuan yang unik. Beliau menyerap hadits dan ilmu agama langsung dari salah satu sumber paling otoritatif dalam Islam, dan Aisha memperlakukannya seperti putra sendiri, mendidiknya dalam hal-hal terperinci mengenai kehidupan rumah tangga Nabi, praktik ibadah, dan perilaku sehari-hari. Melalui beliau, al-Qasim menjadi salah satu perawi terpenting dari riwayat-riwayat Aisha kepada generasi berikutnya, dan sanad periwayatannya dari Aisha termasuk yang paling sering dikutip dalam kitab-kitab hadits yang muktabar.
Beliau secara bulat dianggap oleh para ulama sezamannya sebagai orang yang paling berilmu di Madinah. Imam Malik ibn Anas, yang sendirinya merupakan salah satu ulama terbesar dari tradisi Madinah, sering mengutip al-Qasim dalam al-Muwatta dan menghormatinya dengan sangat dalam. Salah satu kualitas keilmuan al-Qasim yang paling dikenal adalah kesiapannya untuk mengatakan "Saya tidak tahu" ketika beliau tidak memiliki kepastian dalam suatu perkara — suatu sifat yang dipuji para ulama sebagai tanda keilmuan sejati dan ketakwaan.
Al-Qasim kehilangan penglihatannya di masa tuanya namun tetap mengajar dan mengeluarkan fatwa hukum. Beliau adalah kakek dari Imam Jafar as-Sadiq yang agung melalui putrinya Umm Farwah, sehingga menghubungkan garis keturunan Bakri dan Hasyimi. Beliau dikenal karena kesalehan, kedermawanan, dan kerendahan hatinya. Beliau wafat dalam perjalanan di dekat Qudayd, antara Mekah dan Madinah, sekitar tahun 108 H (728 M).
No linked books yet.