Loading...
Loading...
أيوب السختياني
Ayyub as-Sakhtiyani (66-131 H / 685-748 M), yang nama lengkapnya adalah Ayyub ibn Abi Tamimah Kaysan al-Azdi al-Basri, adalah salah satu perawi hadits yang paling terpercaya dan saleh di kalangan Tabiin generasi akhir, yang bermukim di Basra. Gelar as-Sakhtiyani (pengrajin kulit atau orang yang bekerja dengan kulit) berasal dari profesi keluarganya. Para kritikus hadits menganggapnya termasuk dalam tingkatan tertinggi perawi yang dapat dipercaya, dan kredibilitasnya telah begitu kokoh sehingga Ahmad ibn Hanbal berkata: "Ayyub adalah seorang pemimpin dalam Sunnah, dan aku menganggapnya termasuk orang-orang terbaik."
Ayyub belajar kepada sejumlah guru yang luar biasa beragam. Guru-gurunya yang paling penting adalah Nafi mawla ibn Umar, yang darinya ia meneruskan tradisi Madinah dari Abdullah ibn Umar; Muhammad ibn Sirin, ulama terkemuka di Basra; dan al-Hasan al-Basri, yang halaqahnya di Basra membentuk satu generasi penuh ulama Islam. Ia juga meriwayatkan dari Abu Qilabah, Amr ibn Salam, Ikrimah mawla ibn Abbas, dan banyak lainnya. Kombinasi ini menjadikannya penghubung yang sangat penting antara tradisi keilmuan Madinah, Basra, dan pusat-pusat ilmu lainnya.
Riwayat-riwayatnya tersebar di seluruh enam kitab hadits kanonik, terutama dalam Bukhari dan Muslim, di mana ia merupakan salah satu otoritas yang paling sering dikutip. Para kritikus hadits hampir bulat dalam pujian mereka: Yahya ibn Main, Ali ibn al-Madini, dan Ahmad ibn Hanbal semuanya memandangnya sebagai salah satu perawi paling terpercaya pada zamannya. Ia juga dikenal karena ketelitian dan kehati-hatiannya dalam melafalkan riwayat, jarang menggunakan parafrase dan selalu menekankan periwayatan yang tepat kata demi kata.
Di luar kontribusi keilmuannya, Ayyub terkenal karena kesalehan pribadinya. Ia akan menangis saat meriwayatkan hadits Nabi ﷺ dan sangat tersentuh oleh setiap kata yang ia sampaikan. Ia menghabiskan malamnya dengan shalat dan siangnya dengan mengajar dan menuntut ilmu. Ia sangat menentang inovasi teologis (bid'ah) dan terutama bersikap kritis terhadap gerakan Mu'tazilah dan Qadariyah awal yang sedang berkembang di Basra semasa hidupnya. Ia wafat di Basra pada saat wabah penyakit tahun 131 H (748 M), yang juga merenggut nyawa banyak ulama lainnya, sebuah kehilangan yang sangat besar bagi komunitas keilmuan di Iraq.
No linked books yet.