Loading...
Loading...
بسر بن سعيد الحضرمي
Busr ibn Sa'id al-Hadrami adalah seorang tabi'i Madinah yang terkenal di kalangan ulama Islam awal karena kesalehannya yang luar biasa, ketakwaannya, dan kehati-hatiannya dalam meriwayatkan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah seorang maula (bekas budak yang dimerdekakan) dari suku Hadramaut dan tinggal di Madinah, tempat beliau dapat berguru langsung kepada sejumlah sahabat Nabi yang masih hidup.
Di antara guru-gurunya yang merupakan sahabat Nabi ialah Zayd ibn Khalid al-Juhani, Abu Sa'id al-Khudri, Abu Hurairah, dan beberapa sahabat lainnya. Murid-muridnya antara lain Sa'd ibn Ibrahim dan ulama-ulama lain yang aktif di Madinah pada generasi berikutnya. Hadis-hadis yang beliau riwayatkan terdapat dalam Kutub al-Sittah (enam kitab hadis utama), yang menunjukkan betapa tinggi kedudukan beliau di mata para ulama hadis.
Busr ibn Sa'id sangat terkenal dengan kezuhudan dan kehati-hatiannya dalam meriwayatkan hadis. Dikisahkan bahwa ketika seorang juru tulis datang untuk mencatat hadis-hadisnya, Busr merasa tidak nyaman dan meminta agar namanya tidak disebutkan secara menonjol, karena beliau sangat takut terhadap riya' (pamer). Para ulama kritik hadis secara bulat menyatakan beliau tsiqah (terpercaya) dan dhabit (kuat hafalannya).
Imam al-Dzahabi menyebutnya dalam deretan tokoh-tokoh saleh terkemuka dari generasi awal Islam. Busr hidup melewati masa-masa penuh gejolak di dekade-dekade awal pemerintahan Islam, namun beliau tetap memilih jalan kezuhudan dan ibadah. Beliau wafat sekitar tahun 100 H di Madinah, meninggalkan warisan keilmuan dan keteladanan spiritual yang terus dikenang.
Aspek yang paling menonjol dari kepribadian keilmuan Busr ibn Sa'id adalah penolakan sadarnya terhadap ketenaran. Di era ketika transmisi hadis semakin terlembagakan, Busr berusaha meminimalkan profilnya sendiri, lebih memilih kerendahan hati kehidupan ibadah pribadi daripada sorotan keilmuan publik. Disposisi ini tidak menghalanginya untuk mengirimkan pengetahuan; justru sebaliknya, apa yang diriwahatkannya tidak ternoda oleh motivasi pengakuan duniawi. Para ulama yang mengkaji sejarah perawi hadis memujinya sebagai contoh sempurna dari perawi yang menjaga keikhlasan dalam niatnya.
No linked books yet.