Loading...
Loading...
نسيبة بنت كعب
Nusaybah bint Kaab al-Ansariyyah (tanggal lahir tidak pasti, aktif sekitar 610-640 M), yang juga dikenal sebagai Umm Umarah, adalah salah satu wanita paling luar biasa dan pemberani dalam seluruh sejarah Islam. Ia berasal dari klan Banu Najjar dari suku Khazraj di Madinah, dan ia hadir pada Bai'at Aqabah Kedua yang bersejarah, di mana kaum Ansar menyatakan kesetiaan mereka kepada Nabi Muhammad ﷺ — ia adalah satu dari hanya dua wanita di antara para peserta bai'at tersebut. Suaminya adalah Ghaziyyah ibn Amr, dan kedua putranya, Habib ibn Zayd serta Abdullah ibn Zayd, juga merupakan sahabat yang mulia.
Nusaybah datang ke Perang Uhud pada tahun 3 H (625 M) dengan niat memberikan air minum dan perawatan medis kepada para pejuang yang terluka. Ketika barisan kaum Muslimin berantakan akibat para pemanah meninggalkan posisi mereka, dan Nabi menjadi rentan terhadap serangan musuh, Nusaybah berubah dari seorang perawat menjadi seorang pejuang. Ia mengambil pedang dan busur, lalu menempatkan dirinya di antara Nabi dan para penyerangnya, bertempur dengan tekad yang membara untuk melindungi beliau dari bahaya. Ia menerima setidaknya dua belas luka dalam pertempuran tersebut, termasuk luka pedang yang parah di lehernya yang membutuhkan waktu satu tahun penuh untuk sembuh. Nabi ﷺ kemudian memujinya dengan bersabda: "Ke mana pun aku berpaling, ke kanan maupun ke kiri, aku melihat Nusaybah bint Kaab bertempur di hadapanku." Ibnu Katsir mencatat bahwa Nabi mendoakan Nusaybah dan keluarganya agar menjadi teman beliau di surga.
Keterlibatan Nusaybah dalam pertempuran meluas hingga beberapa ekspedisi militer. Ia bertempur di Perang Hunain pada tahun 8 H dan turut hadir dalam Perjanjian Hudaibiyyah. Cobaan terberatnya datang pada Perang Yamamah di tahun 12 H (633 M) melawan nabi palsu Musaylimah al-Kadhdhab, di mana putranya Habib ditangkap, disiksa, dan gugur sebagai syahid karena menolak mengakui Musaylimah sebagai seorang nabi. Dalam pertempuran itu, Nusaybah sendiri menerima sebelas luka tambahan dan tangannya terputus. Ia kemudian pulih dan mencari pembunuh putranya.
Keberanian dan pengorbanan luar biasa Nusaybah telah menjadikannya simbol abadi dalam sejarah Islam tentang partisipasi aktif kaum wanita dalam membela Islam. Kisahnya kerap dijadikan rujukan dalam pembahasan mengenai peran wanita dalam masyarakat Islam, dan kisah hidupnya membuktikan bahwa para sahabat — baik laki-laki maupun perempuan — bersatu dalam pengabdian mereka kepada Islam dengan harta, jiwa, dan raga mereka.
No linked books yet.