Loading...
Loading...
إدريس
Prophet
Idris (semoga Allah melimpahkan salam atasnya), yang sering diidentikkan dalam keilmuan Islam klasik dengan tokoh Alkitab bernama Henokh, adalah salah satu nabi paling awal yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Silsilahnya dalam sumber-sumber tradisional dapat ditelusuri kembali kepada Adam melalui para keturunannya sebelum banjir besar Nuh. Namanya kemungkinan berasal dari akar kata Arab darasa (belajar), mencerminkan tradisi bahwa beliau termasuk orang pertama yang menekuni ilmu pengetahuan secara sistematis, menulis dengan pena, dan mengajarkan berbagai ilmu kepada umat manusia. Beliau diutus kepada umat zamannya untuk mengajak mereka menyembah Allah semata, pada saat benih-benih kesyirikan mulai pertama kali tumbuh.
Allah memuliakan beliau dalam Surah Maryam (19:56-57): "Dan ceritakanlah dalam Kitab ini tentang Idris. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan (kebenaran) dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi (makan aliyyan)." Para ulama klasik seperti Ibn Katsir memahami pengangkatan ini sebagai kenaikan secara harfiah ke langit semasa hidupnya. Nabi Muhammad ﷺ membenarkan hal ini ketika beliau berjumpa dengan Idris di langit keempat pada saat Isra' dan Mi'raj. Idris menyambut beliau dengan hangat, dan Nabi ﷺ menggambarkannya sebagai salah satu saudara yang saleh yang beliau muliakan untuk dijumpai.
Dalam Surah Al-Anbiya' (21:85-86), Idris disejajarkan bersama Ismail dan Dzul-Kifli: "Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzul-Kifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh." Penempatannya dalam kelompok yang mulia ini menetapkan beliau di antara manusia-manusia paling agung yang pernah hidup.
Para sejarawan dan mufassir Islam klasik, termasuk al-Thabari dan Ibn Katsir, menisbatkan kepada Idris sejumlah sumbangan luar biasa bagi peradaban manusia awal: beliau termasuk orang pertama yang menulis dengan pena, menjahit dan mengenakan pakaian dari kain alih-alih kulit binatang, mempelajari pergerakan bintang-bintang dan mengembangkan ilmu astronomi awal, serta menetapkan sistem timbangan dan ukuran. Beliau digambarkan berdakwah di wilayah Mesir dan tempat-tempat lain, mengajak manusia kepada penyembahan Allah semata pada masa yang sangat penting dalam sejarah spiritual umat manusia.
Seluruh kehidupan beliau ditandai dengan kesabaran, dedikasi terhadap ilmu, dan ibadah yang teguh kepada Allah. Sifat siddiq (kejujuran) secara eksplisit dikaitkan dengan beliau dalam Al-Qur'an, menempatkannya dalam golongan hamba-hamba yang paling jujur dan ikhlas. Beliau berdiri sebagai teladan nabi-cendekiawan: seorang yang memadukan ketakwaan yang mendalam dengan pengejaran ilmu yang bermanfaat dan menyebarkannya kepada orang lain. Kedudukan beliau yang tinggi merupakan konfirmasi ilahi bahwa dedikasi terhadap ilmu dan kehidupan yang saleh dalam pengabdian kepada Allah akan meninggikan derajat seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.
No linked books yet.