Loading...
Loading...
إسماعيل
Prophet
Ismail ibn Ibrahim (Ismail, putra Ibrahim, semoga keduanya mendapat keselamatan) adalah seorang nabi Allah, putra sulung Ibrahim, yang lahir dari istrinya Hajar. Ketika Ismail masih bayi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan dia dan ibunya di lembah Makkah yang tandus — suatu tempat yang tidak memiliki air, tumbuh-tumbuhan, maupun manusia. Ibrahim pun menaati perintah tersebut. Ketika Hajar memanggilnya dan bertanya ke mana ia pergi meninggalkan mereka, Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya: "Apakah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?" Ibrahim menjawab ya. Hajar pun berkata: "Kalau begitu, Dia tidak akan menelantarkan kami." Keyakinannya segera mendapat balasan.
Ketika air persediaannya habis dan sang bayi menangis karena kehausan, Hajar berlari tujuh kali di antara bukit Safa dan Marwa dengan penuh kegelisahan mencari air. Pada saat kepayahannya yang paling berat, Allah memancarkan mata air Zamzam tepat di bawah kaki Ismail — sebuah mata air yang tidak pernah kering hingga hari ini. Setiap jemaah yang melaksanakan Haji dan Umrah mengabadikan perjuangan Hajar tersebut dengan melakukan sa'i antara Safa dan Marwa.
Ketika Ismail telah tumbuh besar dan cukup umur untuk bekerja, Allah menguji Ibrahim dengan ujian yang paling berat: sebuah mimpi yang memerintahkannya untuk menyembelih putranya sendiri. Ibrahim menyampaikan hal ini kepada Ismail, yang menyambut dengan penuh kepasrahan. Allah mencatat peristiwa ini dalam Surah As-Saffat (37:102-103): "Ia berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.' Ia menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" Tepat saat hendak menyembelih, Allah menyeru Ibrahim untuk berhenti dan menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang agung dari surga. Peristiwa ini dikenang setiap tahun pada hari raya Idul Adha.
Ayah dan anak kemudian bekerja bersama untuk meninggikan pondasi Ka'bah di Makkah, seraya berdoa sebagaimana tercatat dalam Surah Al-Baqarah (2:127-128): "Ya Tuhan kami, terimalah amal ini dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu." Al-Qur'an menggambarkan akhlak Ismail dalam Surah Maryam (19:54-55): "Dan ceritakanlah dalam Kitab ini tentang Ismail. Sesungguhnya ia adalah orang yang benar janjinya, dan ia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia selalu memerintahkan keluarganya untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, serta ia adalah orang yang diridhai di sisi Tuhannya."
Ismail menetap di Makkah, belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum yang datang bermukim di dekat Zamzam, dan menikah dari kalangan mereka. Melalui kedua belas putranya, kabilah-kabilah Arab di Hijaz pun berasal-usul, dan dari keturunannya lahirlah Nabi Muhammad ﷺ beberapa generasi kemudian — sebagai perwujudan dari doa Ibrahim agar dari keturunannya Allah membangkitkan seorang nabi yang membacakan wahyu Ilahi. Kehidupan Ismail mencerminkan akhlak kenabian yang paling tinggi: tawakal yang sempurna kepada Allah disertai kepasrahan yang tulus atas segala perintah-Nya, apa pun harganya.
No linked books yet.