Loading...
Loading...
سليمان
Prophet
Sulayman ibn Dawud (Sulaiman, putra Dawud, semoga keselamatan terlimpah atas keduanya) adalah seorang nabi dan raja Bani Israil, putra sekaligus penerus Dawud. Allah menganugerahkan kepadanya kerajaan dan kekuasaan yang tidak tertandingi dalam sejarah manusia. Ia sendiri pernah memohonnya: Surah Sad (38:35): "Ia berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.'" Allah mengabulkan doa tersebut, memberikan Sulayman kekuasaan atas jin dan manusia, kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan burung dan hewan, kendali atas angin yang membawa pasukannya menempuh jarak yang sangat jauh, serta kemampuan untuk mengalirkan tembaga cair sebagai sumber daya.
Al-Quran mengisahkan beberapa peristiwa yang luar biasa. Ketika ia memeriksa pasukan-pasukannya yang terdiri dari manusia, jin, dan burung, Sulayman menyadari ketidakhadiran burung hud-hud. Burung itu kembali membawa kabar tentang Ratu Saba (Bilqis) dan kerajaannya di Yaman, yang rakyatnya menyembah matahari. Sulayman mengiriminya sebuah surat yang dimulai dengan Basmalah, mengundangnya untuk berserah diri. Ia kemudian meminta agar singgasana sang ratu dipindahkan dari Yaman ke istananya secara seketika, sebelum sang ratu sempat tiba. Ketika ia datang dan diperlihatkan istana megah dengan lantai kacanya—yang ia kira adalah air—ia pun berserah diri kepada Allah. Surah An-Naml (27:44): "Ia berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.'"
Ia pernah berkomunikasi dengan semut: Surah An-Naml (27:18-19): "Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, seekor semut berkata, 'Wahai para semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian agar kalian tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.' Maka [Sulaiman] tersenyum, geli mendengar ucapan semut itu, dan berkata, 'Ya Tuhanku, ilhamkanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai.'" Meskipun berkuasa atas jin, manusia, burung, hewan, dan angin, Sulayman tidak pernah melupakan bahwa segala yang dimilikinya berasal dari Allah.
Hubungannya dengan jin sangat berperan dalam proyek-proyek pembangunannya: Surah Saba (34:12-13): "Dan kepada Sulaiman [Kami tundukkan] angin—perjalanan paginya setara dengan sebulan—dan perjalanan sorenya pun setara dengan sebulan... Para jin membuat untuknya apa yang ia kehendaki berupa gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, mangkuk-mangkuk sebesar kolam, dan periuk-periuk yang menetap." Ketika Sulayman meninggal dalam keadaan bersandar pada tongkatnya, para jin terus bekerja tanpa menyadari kematiannya, hingga seekor rayap menggerogoti tongkat tersebut dan ia pun jatuh—mengungkapkan kepada para jin bahwa mereka tidak mengetahui hal gaib dan selama ini hanya tunduk pada perintah Allah.
Kisahnya tersebar dalam Surah Al-Baqarah, An-Naml, Saba, dan Sad. Kehidupan Sulayman mengajarkan bahwa kekuasaan, kekayaan, dan wewenang, bila disertai dengan rasa syukur yang tulus dan dzikir yang senantiasa kepada Allah, akan menjadi bentuk ibadah yang paling tinggi—dan bahwa kerajaan terbesar adalah kerajaan yang rajanya menyadari bahwa segalanya sepenuhnya milik Allah.
No linked books yet.