Loading...
Loading...
يعقوب
Prophet
Yaqub ibn Ishaq ibn Ibrahim (Ya'qub, 'alaihissalam), yang juga dikenal dengan gelar Israel, adalah seorang nabi Allah dan salah satu leluhur terbesar Bani Israil. Lahir dari pasangan Ishaq dan istrinya Rifqa di Kanaan sebagai anak kembar yang kedua, ia melanjutkan warisan tauhid murni dari kakeknya Ibrahim dan ayahnya Ishaq. Melalui kedua belas putranya, dua belas suku Bani Israil pun terbentuk. Gelar Israel, yang diberikan kepadanya atas karunia ilahi, menjadi nama yang dikenal oleh keturunannya selama ribuan tahun.
Kisah Yaqub yang paling luas dalam Al-Qur'an disampaikan melalui kisah putranya yang tercinta, Yusuf. Ketika Yusuf menceritakan kepada ayahnya tentang mimpi di mana sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya, Yaqub langsung mengenali maknanya yang bersifat kenabian dan memperingatkan Yusuf. Surah Yusuf (12:5): "Dia berkata, 'Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia.'" Meskipun demikian, para saudara bersekongkol, melemparkan Yusuf ke dalam sumur, lalu membawa bajunya yang dilumuri darah palsu. Yaqub, seorang nabi, tidak mempercayai cerita mereka. Ia berkata: Surah Yusuf (12:18): "Sebenarnya hawa nafsumu telah membujuk kamu untuk berbuat sesuatu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah tempat memohon pertolongan atas apa yang kamu ceritakan."
Kesedihan Yaqub atas kepergian Yusuf begitu dalam dan berkepanjangan hingga akhirnya ia kehilangan penglihatannya karena terus-menerus menangis. Namun ia tidak pernah berputus asa, seraya berkata: Surah Yusuf (12:87): "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir." Pernyataan harapan yang teguh ini, yang terucap dari kedalaman duka seorang ayah dalam keadaan buta, merupakan salah satu ungkapan kepercayaan kenabian yang paling kuat dalam Al-Qur'an.
Ketika Yusuf akhirnya ditemukan masih hidup dan berkuasa di Mesir setelah bertahun-tahun berpisah, baju Yusuf diletakkan di atas wajah Yaqub dan penglihatannya pun pulih kembali. Seluruh keluarga bersujud di hadapan Yusuf di Mesir, menggenapi mimpi Yusuf di masa kecilnya. Menjelang ajalnya, Yaqub mengumpulkan kedua belas putranya dan mengajukan pertanyaan terakhir yang diabadikan dalam Surah Al-Baqarah (2:133): "Apakah kamu hadir ketika maut datang kepada Ya'qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, 'Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.'" Adegan di ranjang kematian ini melambangkan rantai tauhid yang tidak terputus yang mengalir melalui garis kenabian.
Kisah Yaqub merupakan teladan kesabaran dan kepasrahan kepada Allah melalui ujian yang paling panjang dan paling menyakitkan. Ia menanggung kehilangan putranya yang paling dicintai selama bertahun-tahun, kemudian kehilangan putra keduanya yang juga sangat dicintainya, Benyamin, namun ia tidak pernah kehilangan keimanan maupun keyakinannya terhadap hikmah dan rahmat ilahi. Namanya, Israel, menjadi nama sebuah umat, sebuah perjanjian, dan warisan kenabian yang membentang lebih dari seribu tahun risalah.
No linked books yet.