Loading...
Loading...
قتادة بن دعامة
Qatadah ibn Diamah as-Sadusi (61-117 H / 680-735 M) adalah seorang ulama buta dari Basra yang mencapai penguasaan luar biasa dalam berbagai disiplin ilmu Islam, terlepas dari — atau mungkin justru karena — kondisinya yang tidak dapat melihat sejak lahir. Nama lengkapnya adalah Qatadah ibn Diamah al-Azdi as-Sadusi, dan ia berasal dari suku Sadus dari konfederasi Azd di Arabia. Kebutaannya tampaknya justru mengasah kemampuan konsentrasi dan daya hafalnya hingga tingkat yang luar biasa, menjadikannya salah satu perawi ilmu yang paling produktif dan akurat di zamannya.
Qatadah menimba ilmu dari para ulama terkemuka generasi Tabiin, terutama al-Hasan al-Basri, yang di bawah bimbingannya ia belajar secara mendalam di Basra. Ia juga belajar dari Anas ibn Malik, salah satu sahabat besar yang masih hidup terakhir di Basra, dan meriwayatkan sejumlah besar hadits darinya. Ia belajar pula dari Said ibn al-Musayyib, Ikrimah mawla ibn Abbas, Urwah ibn az-Zubair, dan banyak ulama lainnya di seluruh dunia Islam. Keluasan studinya mencakup tidak hanya hadits dan fikih, tetapi juga syair Arab, nasab kabilah-kabilah Arab, sejarah Arabia pra-Islam, serta Al-Qur'an.
Penguasaannya dalam tafsir Al-Qur'an sangat masyhur. Ia adalah salah satu perawi utama tradisi tafsir al-Hasan al-Basri, dan ia sendiri menjadi sumber penting bagi pendapat-pendapat tafsir yang dikutip dalam kitab-kitab tafsir klasik besar karya at-Tabari, Ibn Abi Hatim, dan Ibn Katsir. Penafsiran-penafsirannya atas ayat-ayat Al-Qur'an termasuk di antara pendapat Tabiin yang paling sering dikutip dalam seluruh tradisi tafsir.
Sebagian kritikus hadits mencatat bahwa Qatadah terkadang melakukan tadlis (meriwayatkan hadits tanpa menyatakan secara jelas bahwa ia mendengarnya langsung dari orang yang ia sebut), yang mengharuskan adanya kehati-hatian dalam menerima riwayatnya tanpa verifikasi. Meski demikian, ia tetap diterima secara keseluruhan sebagai perawi yang tsiqah, dan hadits-haditsnya termuat dalam keenam kitab hadits kanonik. Ia wafat saat terjadi wabah di Wasit, Iraq, sekitar tahun 117 H (735 M), dan kepergiannya sangat diratapi oleh komunitas ulama Basra sebagai kehilangan yang tak tergantikan.
No linked books yet.