Al-Mundhiri: Ulama Hadis dan Pengarang At-Targhib wat-Tarhib
Suggest editZayn al-Din Abu Muhammad 'Abd al-'Azim ibn 'Abd al-Qawi ibn 'Abd Allah al-Mundhiri (581–656 H / 1185–1258 M) adalah seorang ulama hadits besar dari Mesir yang bermazhab Syafi'i dan salah satu penyusun literatur hadits paling produktif pada abad ketujuh Islam. Lahir di lingkungan ilmiah dan dididik oleh para perawi hadits terkemuka di zamannya, ia kemudian menjadi kepala Dar al-Hadits al-Kamiliyya di Kairo, sebuah lembaga bergengsi yang didedikasikan untuk pengkajian dan periwayatan hadits. Ia wafat di Kairo tak lama sebelum invasi Mongol yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur keilmuan dunia Islam. Di antara guru-guru utamanya adalah hafidz hadits ternama 'Abd al-Ghani al-Maqdisi, dan murid-muridnya mencakup tokoh-tokoh besar seperti Ibn Khalikan dan al-Nawawi, yang sangat menghormatinya.
Karya utama al-Mundhiri yang masih ada adalah At-Targhib wat-Tarhib min al-Hadits al-Syarif (Dorongan dan Peringatan dari Hadits yang Mulia), sebuah kompilasi tematik laporan-laporan kenabian yang disusun berdasarkan kategori amalan yang didorong oleh syariat (melalui janji pahala) dan yang diperingatkan darinya (melalui ancaman siksa). Susunan ini mencerminkan genre literatur targhib wat-tarhib, yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi Islam dan berfungsi sebagai sarana penting untuk pengajaran agama kepada masyarakat umum. Versi al-Mundhiri termasuk yang terbesar dan paling komprehensif dari kompilasi-kompilasi semacam ini, menghimpun dari berbagai koleksi hadits untuk memberikan cakupan luas atas ranah-ranah utama ibadah, akhlak, dan perilaku sosial dalam Islam.
Perhatian ilmiah terhadap karya ini berkaitan dengan metodologi penilaian haditsnya. Al-Mundhiri menyusun materi disertai catatan penilaian, namun para pengkritik — paling menonjol adalah Imam al-Albani dalam edisi Sahih dan Da'if-nya atas karya ini — mendapati bahwa kompilasi tersebut memuat sejumlah besar hadits lemah (da'if) bahkan palsu (mawdu') bercampur dengan yang sahih. Genre literatur targhib wat-tarhib sering kali diberi kelonggaran oleh ulama klasik dalam menyertakan hadits lemah untuk mendorong perilaku bajik, berdasarkan kaidah ulama yang diperdebatkan yang membolehkan hadits lemah dalam hal-hal yang berkaitan dengan dorongan dan keutamaan, bukan hukum syariat. Namun, kajian Athari kemudian — termasuk analisis terperinci Syaikh al-Albani — mendapati bahwa kelonggaran ini diterapkan secara tidak konsisten dalam At-Targhib wat-Tarhib dan bahwa sebagian riwayat yang dikandungnya terlalu lemah atau palsu untuk dapat digunakan bahkan berdasarkan standar yang permisif sekalipun. Oleh karena itu, karya ini memerlukan verifikasi hadits dari para ahli sebelum riwayat-riwayat tertentu dikutip dalam konteks ilmiah maupun populer.
Al-Mundhiri sendiri adalah tokoh penting dan dihormati dalam sejarah keilmuan hadits, dan biografi ilmiahnya serta kontribusinya terhadap periwayatan sunnah kenabian sangatlah berarti. Kekhawatiran yang disebutkan di atas berkaitan dengan pertanyaan metodologis khusus dalam satu kompilasi besar, bukan tentang keandalan beliau secara keseluruhan sebagai perawi hadits maupun kualitas karya-karya ilmiahnya yang lain. Islam.wiki tidak menyertakan At-Targhib wat-Tarhib dalam perpustakaannya mengingat kekhawatiran autentikasi hadits yang dijelaskan di atas; pembaca yang tertarik dengan tema-tema karya tersebut diarahkan ke koleksi hadits yang telah terverifikasi dalam perpustakaan.