Kairo dalam Sejarah Islam
Suggest edit## Kairo: Kota al-Muizz dan Ibu Kota Peradaban Islam
Kairo, atau al-Qahirah (Kota yang Menang), didirikan atas perintah perbintangan pada tahun 358 H (969 M) oleh panglima Fatimiyah Jawhar al-Siqilli. Dalam waktu singkat, kota ini tumbuh menjadi kota terbesar dan paling aktif secara peradaban di dunia Islam.
## Pendirian Kairo Fatimiyah
Kairo didirikan sebagai ibu kota Dinasti Fatimiyah Syiah yang memerintah Mesir, Afrika Utara, Syam, dan Mekah antara tahun 358–567 H. Jawhar al-Siqilli merancangnya berdekatan dengan kota Arab lama, Fustat, dan membangun di dalamnya Masjid al-Azhar yang kelak menjadi lembaga pendidikan Islam terbesar dalam sejarah.
## Universitas Al-Azhar al-Syarif
Al-Azhar al-Syarif adalah mahkota ilmiah Kairo. Didirikan pada tahun 361 H sebagai masjid Fatimiyah, ia kemudian bertransformasi pada era Ayyubiyah dan Mamluk menjadi mercusuar ilmu Sunni. Selama berabad-abad, al-Azhar menjadi referensi pendidikan Islam yang menarik pelajar dari Indonesia hingga Mali.
## Kairo pada Era Ayyubiyah
Shalahuddin al-Ayyubi merebut kembali Kairo dari kaum Fatimiyah pada tahun 567 H dan mengembalikannya kepada Ahlus Sunnah. Ia membangun Benteng al-Jabal yang terkenal, yang menjadi pusat pemerintahan selama berabad-abad.
## Kairo pada Era Mamluk
Kairo mencapai puncak kemakmurannya pada era Mamluk (648–923 H). Kota ini menjadi ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah nominal dan tempat perlindungan para ulama yang melarikan diri dari kekejaman Mongol. Era ini menyaksikan pembangunan kompleks arsitektur yang menakjubkan seperti kompleks Sultan Hasan dan perluasan al-Azhar.
### Ibnu Khaldun dan Kehidupan Intelektual
Pemikir genius Ibnu Khaldun menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Kairo dan menulis di sini Muqaddimah-nya yang abadi. Kairo adalah kota besar filsafat, tasawuf, ilmu al-Qur'an, dan hadits pada abad ke-13 dan ke-14 M — masa ketika hampir tidak ada kota lain yang menandingi kedalaman dan keragaman kehidupan intelektualnya.
Last updated: 3/9/2026