Akidah Athari: Manhaj Salaf dalam Akidah
Akidah Athari (juga disebut akidah Ahlul Hadits atau manhaj Salaf) adalah metodologi teologi yang secara langsung mengikuti pemahaman para Sahabat, Tabi'in, dan imam-imam awal Islam dalam masalah-masalah akidah. Istilah "Athari" berasal dari "atsar" (riwayat/tradisi), mencerminkan penekanan metodologi ini pada berpegang pada teks-teks Al-Quran dan Sunnah tanpa menundukkannya pada interpretasi teologi spekulatif (kalam). Akidah Athari dianggap oleh para penganutnya sebagai ekspresi paling otentik dari akidah Islamiah.
Prinsip-Prinsip Utama
Akidah Athari didasarkan pada beberapa prinsip utama. Pertama: Al-Quran dan Sunnah sahih adalah satu-satunya sumber akidah โ akal tidak berdiri secara independen dari wahyu. Kedua: sifat-sifat Allah ditetapkan sebagaimana disebutkan dalam teks tanpa ta'wil (interpretasi metaforis), ta'thil (pengingkaran), takyif (menanyakan bagaimana caranya), atau tamtsil (perumpamaan dengan makhluk). Ketiga: pemahaman Salaf adalah standar โ jika para Sahabat dan Tabi'in tidak mempersoalkan suatu masalah, mengajukannya sebagai masalah adalah bid'ah.
Posisi tentang Sifat Allah
Posisi paling khas dari Athari adalah tentang sifat-sifat Allah. Ketika Al-Quran berkata Allah "bersemayam di atas Arsy" (Istiwa), Athari menetapkan Istiwa tanpa menanyakan caranya dan tanpa menyamakan dengan duduknya makhluk. Ini disebut manhaj ithbat bila takyif โ menetapkan sifat tanpa bertanya bagaimana caranya. Imam Malik berkata ketika ditanya tentang Istiwa: "Istiwa itu diketahui, caranya tidak diketahui, bertanya tentangnya adalah bid'ah."
Tokoh-Tokoh Utama Athari
Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H) adalah tokoh paling menonjol dari akidah Athari, terutama melalui sikapnya dalam fitnah tentang kemakhlukan Al-Quran. Tokoh-tokoh lain: Ibn Taimiyyah (w. 728 H), yang mensistematisasi metodologi Athari dalam karya-karya yang luas; Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H); al-Barbahari (w. 329 H). Di era modern, ulama seperti Syaikh Ibn Baz, Syaikh al-'Utsaimin, dan Syaikh al-Albani diidentifikasi dengan tradisi ini.
Hubungan dengan Asy'ari dan Maturidi
Athari, Asy'ari, dan Maturidi semuanya dianggap termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Perbedaan utama mereka adalah metodologis: Athari berpegang ketat pada teks tanpa kalam; Asy'ari dan Maturidi menggunakan kalam sebagai alat defensif untuk mempertahankan akidah dari serangan filosofis. Para ulama besar dari ketiga tradisi ini sepakat tentang substansi pokok akidah Islam meskipun berbeda dalam metode dan beberapa posisi sekunder.
References in This Article
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Tawhid โ Islamic Monotheism
The absolute oneness of Allah in His lordship, worship, and names and attributes. The foundation of Islamic theology.
Shirk โ Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah โ Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.