Kematian dan Menghadapi Kematian dalam Islam
Islam memandang kematian bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai pintu menuju kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Kematian dalam pandangan Islam adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapapun, dan menghadapinya dengan kesiapan dan keimanan adalah tanda kebijaksanaan sejati. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian (Ali Imran: 185).
Islam mendorong seorang Muslim untuk senantiasa mengingat kematian (dzikrul maut), bukan untuk membuat hidup menjadi muram dan penuh ketakutan, tetapi untuk meluruskan prioritas hidup dan memotivasi untuk berbuat kebaikan selagi masih ada kesempatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda agar memperbanyak mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Orang yang sering mengingat kematian akan lebih bijak dalam menggunakan waktu dan sumber dayanya, tidak terlalu terikat pada kemewahan dunia.
Sakaratul maut atau proses menjelang kematian mendapat perhatian khusus dalam Islam. Orang yang sakit keras atau sedang menjelang kematian disunnahkan untuk dituntun mengucapkan kalimat syahadat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda agar menuntun orang yang menjelang kematian untuk mengucapkan Laa ilaha illallah (HR. Muslim). Kalimat terakhir yang diucapkan seseorang sebelum wafat sangat berpengaruh terhadap keadaannya di akhirat kelak.
Islam mengajarkan bahwa setelah kematian, ruh akan memasuki alam barzakh yang merupakan periode antara kematian dan kebangkitan di hari kiamat. Di alam barzakh, orang yang meninggal akan ditanya oleh dua malaikat tentang Tuhan mereka, agama mereka, dan Nabi mereka. Orang beriman akan menjawab dengan tenang dan akan menikmati kebahagiaan di alam barzakh, sementara orang yang tidak beriman atau yang berbuat kejahatan akan mengalami siksa kubur. Kepercayaan terhadap alam barzakh mendorong seorang Muslim untuk mempersiapkan diri dengan amal shalih yang sebanyak-banyaknya.
Kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintai adalah hal yang wajar dan diakui dalam Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menangis ketika putranya Ibrahim meninggal, sambil bersabda bahwa mata ini mencucurkan air mata dan hati ini berduka, namun yang diucapkan hanyalah apa yang diridhai Tuhan. Menangis dan bersedih dibolehkan, tetapi meratap yang berlebihan dan mengucapkan kata-kata yang mengandung protes terhadap takdir Allah dilarang dalam Islam. Seorang Muslim menghadapi kematian dengan iman, sabar, dan penerimaan yang tulus akan ketetapan Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
References in This Article
Related Articles
The Six Pillars of Iman (Faith)
The articles of faith in Islam: belief in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, the Last Day, and Divine Decree.
Tawhid — Islamic Monotheism
The absolute oneness of Allah in His lordship, worship, and names and attributes. The foundation of Islamic theology.
Shirk — Associating Partners with Allah
The gravest sin in Islam. Types of shirk (major and minor), its manifestations, and how to avoid it.
Bid'ah — Innovation in Religion
What constitutes religious innovation, the scholarly difference between good and bad innovation, and its boundaries.