Muhkam dan Mutasyabih: Ayat-Ayat yang Jelas dan Samar
Klasifikasi QuraniAl-Quran sendiri mengklasifikasikan isinya menjadi dua kategori: "Dialah yang menurunkan Al-Kitab kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat muhkamat โ itulah Ummul Kitab โ dan yang lainnya mutasyabihat. Adapun orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari fitnah dan mencari takwilnya. Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami" (3:7).
Makna MuhkamAyat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya jelas, tegas, dan tidak ambigu. Ia menjadi acuan untuk memahami bagian-bagian Al-Quran lainnya. Contoh ayat muhkam meliputi perintah shalat, zakat, puasa, haji, serta larangan syirik, zina, dan riba. Makna-makna ini tidak menimbulkan kerancuan dan dapat diterapkan langsung dalam kehidupan beragama.
Ayat-ayat mutasyabih, di sisi lain, adalah ayat-ayat yang maknanya tidak sepenuhnya jelas, atau memiliki lebih dari satu kemungkinan penafsiran, atau mengandung makna yang hanya Allah yang mengetahuinya secara penuh. Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya aliran Athari yang dipegang oleh para ulama Salaf, pendekatan terhadap ayat-ayat mutasyabih โ terutama yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah โ adalah dengan mengimani maknanya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, tanpa menyerupakan dengan makhluk (tasybih), tanpa menolak (ta'thil), dan tanpa menggambarkan bagaimananya (takyif).
Perdebatan terbesar seputar ayat-ayat mutasyabih menyangkut ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah (ayat sifat), seperti "tangan Allah di atas tangan-tangan mereka" (48:10), "dan Allah beristiwa' di atas Arsy" (20:5), dan yang semisalnya. Para ulama Salaf menetapkan bahwa makna-makna ini benar adanya sesuai dengan keagungan Allah, namun cara dan hakikatnya tidak diketahui. Kelompok Asy'ariyah umumnya melakukan ta'wil (penafsiran metaforis) terhadap ayat-ayat ini, sementara kelompok Athari/Salafi memilih tafwid (menyerahkan maknanya kepada Allah) atau itsbat (menetapkan maknanya sebagaimana adanya tanpa takyif).
Pentingnya membedakan muhkam dan mutasyabih tidak dapat dilebih-lebihkan dalam ilmu tafsir dan aqidah. Sejarah Islam penuh dengan contoh kelompok-kelompok yang tersesat karena meninggalkan ayat-ayat muhkam sebagai landasan dan mengikuti ayat-ayat mutasyabih sesuai hawa nafsu mereka. Al-Quran sendiri menyebut kecenderungan ini sebagai tanda hati yang condong pada kesesatan. Para ulama tafsir mengajarkan bahwa ayat-ayat muhkam harus menjadi fondasi pemahaman, sementara ayat-ayat mutasyabih harus ditafsirkan di bawah bimbingan ulama yang mendalam ilmunya dan dalam kerangka yang tidak bertentangan dengan ayat-ayat muhkam.
References in This Article
Related Articles
Ulum al-Quran โ Sciences of the Quran
The disciplines that serve Quran understanding: revelation history, recitation modes, Arabic rhetoric, and more.
Tafsir Methodology โ Interpreting the Quran
The science of Quran exegesis: its sources, types, major works, and the qualifications of a mufassir.
Naskh โ Abrogation in the Quran and Sunnah
The concept of abrogation: what it means, scholarly views, examples, and common misconceptions.
Prophet Ibrahim (Abraham): The Friend of Allah
The story of Ibrahim, from smashing the idols to the ultimate test of sacrificing his son, and his role as the father of monotheism.