Tujuh Qira'at: Gaya Bacaan yang Diotorisasi
Apa itu Qira'at?
Qira'at (bentuk jamak dari qira'ah โ bacaan atau gaya pembacaan) merujuk pada variasi-variasi yang diotorisasi dalam pembacaan Al-Quran, diturunkan melalui rantai transmisi yang dapat diandalkan dari Nabi. Tradisi Islam mengajarkan bahwa Nabi menerima Al-Quran dalam tujuh ahruf (cara atau dialek) dan bahwa qira'at yang diotorisasi adalah ekspresi dari pluralisme yang diberikan Allah ini. Variasi-variasi ini berkaitan dengan vokalisasi, pemanjangan, penghilangan, dan terkadang konsonan yang berbeda โ bukan merupakan perbedaan dalam makna mendasar, tetapi yang dapat menghasilkan nuansa makna yang kaya.
Tujuh Imam Qira'at
Tujuh qira'at yang paling terkenal dikaitkan dengan tujuh imam yang otoritasnya diakui di seluruh dunia Muslim: Nafi' al-Madani (Madinah), Ibn Kathir al-Makki (Makkah), Abu 'Amr al-Basri (Basra), Ibn 'Amir al-Dimasyqi (Damaskus), 'Asim al-Kufi (Kufah), Hamzah al-Kufi (Kufah), dan al-Kisa'i al-Kufi (Kufah). Setiap imam memiliki dua perawi utama yang meriwayatkan bacaannya, menghasilkan empat belas sanad utama dari tujuh imam.
Qira'ah paling luas digunakan saat ini adalah riwayat Hafs 'an 'Asim โ yang merupakan bacaan standar dalam sebagian besar mushaf dunia. Riwayat Warsy 'an Nafi' lazim di Afrika Barat dan Utara. Perbedaan antara keduanya meliputi panjang madd, cara membaca hamzah, dan beberapa pilihan konsonan.
Syarat-Syarat Qira'ah yang Valid
Para ulama telah menetapkan tiga syarat untuk qira'ah dianggap valid dan diotorisasi: harus sesuai dengan rasm Usmani (mushaf yang dibuat di bawah Khalifah Utsman); harus sesuai dengan salah satu dialek bahasa Arab yang valid; dan harus memiliki sanad yang mutawatir (transmisi yang tak terputus melalui banyak perawi) kembali kepada Nabi. Qira'at yang tidak memenuhi ketiga syarat ini dikategorikan sebagai syadz (tidak biasa) dan tidak digunakan dalam ibadah.
Signifikansi Teologis dan Tafsir
Keberadaan berbagai qira'at yang diotorisasi mengungkapkan kekayaan linguistik Al-Quran. Ketika dua qira'at memberikan vokalisasi yang berbeda yang menghasilkan makna yang berbeda, keduanya dianggap valid dan keduanya dieksplorasi oleh para mufasir. Para ulama tafsir secara rutin merujuk pada berbagai qira'at untuk mengiluminasi makna ayat-ayat yang sedang ditafsirkan, karena setiap qira'ah yang diotorisasi dianggap sebagai bagian dari wahyu ilahi.
References in This Article
Related Articles
Ulum al-Quran โ Sciences of the Quran
The disciplines that serve Quran understanding: revelation history, recitation modes, Arabic rhetoric, and more.
Tafsir Methodology โ Interpreting the Quran
The science of Quran exegesis: its sources, types, major works, and the qualifications of a mufassir.
Naskh โ Abrogation in the Quran and Sunnah
The concept of abrogation: what it means, scholarly views, examples, and common misconceptions.
Prophet Ibrahim (Abraham): The Friend of Allah
The story of Ibrahim, from smashing the idols to the ultimate test of sacrificing his son, and his role as the father of monotheism.