Tawakal — Berserah Diri kepada Allah
Tawakkal adalah salah satu maqam (tingkatan) spiritual yang paling tinggi dalam Islam. Secara bahasa, tawakkal berasal dari kata "wakala" yang berarti menyerahkan urusan kepada orang lain. Dalam terminologi syariat, tawakkal berarti menyerahkan semua urusan kepada Allah setelah melakukan usaha yang semestinya, dengan keyakinan penuh bahwa Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Pelindung. Allah berfirman: "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath-Thalaq: 3). Janji Allah ini adalah jaminan tertinggi bagi setiap Muslim yang benar-benar bertawakkal.
Perlu dipahami dengan benar bahwa tawakkal tidak berarti berdiam diri tanpa berusaha. Ini adalah kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat. Suatu kali ada seorang sahabat yang ingin meninggalkan untanya tanpa diikat karena ia bertawakkal kepada Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: "Ikatlah dulu untamu, kemudian bertawakkal." (HR. Tirmidzi). Hadits ini dengan tegas mengajarkan bahwa tawakkal harus diawali dengan ikhtiar (usaha) yang maksimal. Tawakkal sejati adalah menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah seseorang telah berusaha dengan sepenuh kemampuannya.
Tawakkal memiliki buah-buah yang sangat indah bagi kehidupan seorang Muslim. Pertama, tawakkal memberikan ketenangan jiwa yang tidak bisa diperoleh dari sumber manapun selain dari Allah. Seseorang yang benar-benar bertawakkal tidak akan dihantui rasa khawatir dan gelisah yang berlebihan, karena ia tahu bahwa segala sesuatu ada dalam genggaman Allah yang Maha Kuasa. Kedua, tawakkal membebaskan seseorang dari ketergantungan yang berlebihan kepada makhluk. Ia tidak perlu meminta-minta kepada manusia atau merendahkan dirinya demi mendapatkan bantuan dari selain Allah. Ketiga, tawakkal mendatangkan rezeki dan pertolongan dari Allah dengan cara-cara yang tidak terduga.
Contoh tawakkal yang luar biasa terdapat dalam sejarah para nabi. Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika dilempar ke dalam api yang membara, ia tetap tenang dan bertawakkal kepada Allah. Allah pun memerintahkan api untuk menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim. Nabi Musa 'alaihissalam ketika terjepit di antara Laut Merah dan pasukan Firaun, ia tetap yakin dengan pertolongan Allah. Dan Allah pun membelah lautan sebagai penyelamatan. Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa tawakkal yang sejati akan selalu mendapatkan pertolongan Allah pada saat yang paling dibutuhkan.
Untuk membangun tawakkal yang sejati, seorang Muslim perlu memperkuat imannya bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Ia perlu meyakini bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini yang luput dari pengetahuan dan kehendak Allah. Dengan keyakinan ini, seorang Muslim akan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan kepala tegak dan hati yang tenang. Ia akan berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan ridha dan penuh keyakinan bahwa apapun yang Allah tetapkan adalah yang terbaik untuknya.
References in This Article
Hadith Collections
Related Articles
Adab — Islamic Etiquette and Manners
The Prophetic etiquettes for eating, drinking, sleeping, greeting, visiting, and social interaction.
Haya — Modesty in Islam
The comprehensive Islamic concept of modesty: in dress, speech, behavior, and the gaze. A branch of faith.
Tawbah — Repentance in Islam
The door of repentance: conditions for valid tawbah, major vs minor sins, and the infinite mercy of Allah.
Sabr — Patience in Islam
The virtue that encompasses all trials: patience in worship, patience from sin, and patience with Allah's decree.