Iman kepada Kitab-Kitab yang Diturunkan: Rukun Iman yang Ketiga
Suggest editBeriman kepada kitab-kitab yang diturunkan adalah rukun iman ketiga dalam Islam. Seorang Muslim wajib meyakini bahwa Allah menurunkan kitab suci kepada para nabi-Nya sebagai petunjuk bagi umat manusia. Keyakinan ini mengakui bahwa komunikasi ilahi tidak terbatas hanya pada Nabi Muhammad ﷺ — Allah menurunkan petunjuk melalui para nabi-Nya sepanjang sejarah — namun kitab suci terakhir yang terpelihara dan otoritatif adalah Al-Qur'an, yang menasakh dan mengungguli semua kitab yang datang sebelumnya.
Kitab-Kitab yang Disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah
Beberapa kitab suci ilahi disebutkan namanya secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan hadits yang sahih:
- Suhuf (Lembaran-Lembaran): Diturunkan kepada Ibrahim (Abraham) dan Musa (Moses), 'alaihimas salam, berisi petunjuk ilahi awal. Allah menyebutnya sebagai "suhuf Ibrahim dan Musa" (87:19).
- Taurat: Diturunkan kepada Nabi Musa. Al-Qur'an berulang kali menyebut Taurat sebagai kitab cahaya dan petunjuk yang diturunkan kepada Bani Israil.
- Zabur: Diturunkan kepada Nabi Dawud. Allah berfirman: "Dan kepada Dawud Kami berikan Zabur" (4:163).
- Injil: Diturunkan kepada Nabi Isa (Jesus), 'alaihis salam, sebagai pembenaran dan penyempurna Taurat. Allah berfirman bahwa Injil mengandung "petunjuk dan cahaya" (5:46).
- Al-Qur'an: Wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, terpelihara dalam bentuk aslinya hingga hari ini.
Pemeliharaan Al-Qur'an
Keyakinan utama dalam rukun ini adalah bahwa meskipun kitab-kitab terdahulu telah diselewengkan, diubah, atau hilang seiring waktu, Al-Qur'an telah terpelihara dalam bentuk aslinya sejak diturunkan. Allah sendiri menjamin pemeliharaannya: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (15:9). Pemeliharaan ini terlaksana melalui dua jalur sekaligus: hafalan (ratusan sahabat menghafal seluruh Al-Qur'an semasa hidup Nabi ﷺ) dan penulisan (para juru tulis mencatatnya atas arahan Nabi ﷺ). Mushaf yang dikompilasi oleh Utsman ibn Affan menetapkan satu teks yang otoritatif, dan jutaan umat Islam telah menghafalnya di setiap generasi sejak saat itu.
Perbedaannya dengan kitab-kitab terdahulu sangat nyata. Al-Qur'an mengakui bahwa Ahli Kitab telah mengubah kitab suci mereka: "Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu berkata, 'Ini dari Allah'" (2:79). Kajian biblika modern secara independen mengonfirmasi bahwa teks-teks Alkitab mengalami perubahan dan revisi yang signifikan selama berabad-abad — sebuah temuan yang sejalan dengan keyakinan Islam tentang pemalsuan teks (tahrif) kitab-kitab terdahulu.
Beriman kepada Asal-Usul Ilahi Al-Qur'an
Umat Islam meyakini bahwa setiap kata dalam Al-Qur'an adalah firman Allah secara harfiah, yang diturunkan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui malaikat Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Al-Qur'an menantang seluruh umat manusia: "Jika kamu meragukan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang serupa dengannya" (2:23). Tantangan ini — yang dikenal sebagai i'jaz (kemukjizatan) Al-Qur'an — telah bertahan lebih dari 1.400 tahun. Kesempurnaan bahasa Al-Qur'an, konsistensi internalnya, ketepatan prediksinya, dan keselarasannya dengan ilmu pengetahuan merupakan sebagian bukti yang dikemukakan para ulama Muslim atas asal-usul ilahi Al-Qur'an.
Implikasi Praktis
Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan mengharuskan seorang Muslim untuk memuliakan Al-Qur'an di atas semua teks lainnya, membacanya secara rutin, berusaha memahaminya, dan mengamalkan petunjuknya. Nabi ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya" (Bukhari). Umat Islam juga wajib memperlakukan kitab-kitab terdahulu dengan rasa hormat secara umum — tidak membenarkan maupun mendustakan apa yang masih tersisa dari kitab-kitab tersebut, kecuali yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an atau Sunnah. Seseorang tidak bersujud kepada Al-Qur'an atau memperlakukannya sebagai objek pemujaan yang melampaui batas yang semestinya, namun Al-Qur'an harus dijaga dalam keadaan suci dan tidak boleh diletakkan pada posisi yang tidak menghormatinya. Al-Qur'an adalah konstitusi peradaban Islam yang hidup — sumber utama bagi hukum, teologi, etika, dan spiritualitas.