Jatuhnya Baghdad (1258 M)
Jatuhnya Baghdad ke tangan pasukan Mongol Hulagu Khan pada Februari 1258 M (Shafar 656 H) adalah peristiwa paling bencana dalam sejarah Islam. Ibu kota Abbasiyah, yang telah menjadi pusat peradaban Islam selama lima abad, dijarah, dan Khalifah Abbasiyah terakhir al-Musta'shim dieksekusi. Perkiraan jumlah korban jiwa berkisar dari ratusan ribu hingga lebih dari satu juta. Perpustakaan, masjid, rumah sakit, dan istana dihancurkan. Peristiwa ini menghancurkan rasa invincibility (tidak terkalahkan) dunia Muslim dan menyebabkan trauma kolektif yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Serangan Hulagu Khan dimulai pada akhir tahun 1257 M, ketika pasukan Mongol yang besar mengepung kota dari berbagai penjuru. Khalifah al-Musta'shim, yang tidak memiliki kekuatan militer yang nyata dan dikelilingi oleh penasihat yang saling bertentangan, gagal mengambil tindakan tegas. Sebagian sejarawan mencatat bahwa sang khalifah tertipu oleh menteri pengkhianatnya, Ibn al-Alqami, yang diduga memberikan informasi keliru dan bahkan menyabotase persiapan pertahanan kota.
Pengepungan berlangsung selama beberapa minggu. Setelah pertahanan kota jebol, pasukan Mongol menyerbu masuk dan membantai penduduk selama empat puluh hari tanpa henti. Sungai Tigris, menurut para saksi mata, berubah warna menjadi merah oleh darah dan hitam oleh tinta dari jutaan buku yang dibuang ke dalamnya. Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), pusat penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan selama beberapa abad, dihancurkan sepenuhnya bersama koleksi buku dan manuskrip yang tak ternilai harganya.
Khalifah al-Musta'shim sendiri dieksekusi dengan cara yang tidak biasa โ menurut tradisi Mongol, darah seorang pemimpin tidak boleh tumpah ke tanah, sehingga ia dibungkus dalam permadani dan diinjak-injak oleh kuda hingga tewas. Dengan kematiannya, berakhirlah Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad yang telah berdiri selama lebih dari lima abad.
Dampak jatuhnya Baghdad sangat luar biasa dan berjangka panjang. Secara demografis, kota yang pernah berpenduduk satu juta jiwa itu merosot menjadi tidak lebih dari beberapa puluh ribu orang. Secara intelektual, hilangnya perpustakaan-perpustakaan Baghdad berarti hilangnya karya-karya ilmiah, filosofis, medis, dan sastra yang tidak dapat digantikan. Secara politik, dunia Islam kehilangan pusat unifikasi simbolisnya โ khalifah yang diakui oleh seluruh umat.
Namun demikian, Islam tidak hancur. Para ulama, ilmuwan, dan seniman yang berhasil melarikan diri membawa serta pengetahuan mereka ke Mesir, Syam, Anatolia, dan India. Sultan Mamluk Baybars mengalahkan pasukan Mongol di Pertempuran Ain Jalut pada tahun 1260 M โ kemenangan bersejarah yang menghentikan ekspansi Mongol ke arah barat. Selain itu, banyak pemimpin Mongol sendiri kemudian memeluk Islam, dan peradaban Islam bangkit kembali di bawah Dinasti Ilkhanid yang terislamisasi.
Jatuhnya Baghdad sering disebut sebagai akhir dari "Zaman Keemasan Islam." Namun para sejarawan modern mengingatkan bahwa kemunduran ilmiah dan ekonomi dunia Islam sudah berlangsung jauh sebelum 1258 M, dan bahwa warisan intelektual Islam terus berkembang setelahnya di Kairo, Istanbul, Samarkand, dan Delhi. Peristiwa ini tetap menjadi pengingat pahit tentang konsekuensi perpecahan internal, lemahnya kepemimpinan, dan abainya terhadap ancaman yang nyata.
References in This Article
Hadith Collections
Scholars
Related Articles
The Compilation of the Quran
How the Quran was preserved: from oral memorization during the Prophet's life to the standardized mushaf under Caliph Uthman.
The Rashidun Caliphate
The era of the four rightly-guided caliphs: Abu Bakr, Umar, Uthman, and Ali. The golden age of Islamic governance.
The Battle of Badr
The first major battle in Islamic history: 313 Muslims against 1,000 Quraysh, and how divine aid secured victory.
The Battle of Uhud
The second major battle: the reversal of fortune, the wounding of the Prophet, and the lessons for the ummah.