Ikhlas — Keikhlasan dalam Beribadah
Ikhlas adalah jiwa dari setiap ibadah dan amal kebaikan. Tanpa ikhlas, sebesar apapun amal yang dikerjakan tidak akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Secara bahasa, ikhlas berarti murni atau bersih. Dalam istilah syariat, ikhlas berarti memurnikan niat dalam beribadah semata-mata karena Allah, tanpa mencampurnya dengan tujuan-tujuan lain seperti mencari pujian manusia, mengharapkan keuntungan duniawi, atau menghindari celaan. Allah berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Lawan dari ikhlas adalah riya, yaitu beribadah dengan tujuan untuk dilihat dan dipuji oleh manusia. Riya merupakan syirik kecil yang sangat berbahaya bagi amal seseorang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutnya sebagai "syirik yang tersembunyi" dan menggambarkan betapa berbahayanya ia lebih dari sesuatu yang beliau khawatirkan terhadap umatnya. Seseorang yang riya mungkin secara lahiriah tampak sangat rajin beribadah, tetapi di sisi Allah, amalannya tidak bernilai apa-apa karena ia tidak ditujukan untuk Allah.
Ikhlas sangat sulit dicapai dan memerlukan mujahadah (perjuangan batin) yang terus-menerus. Para ulama salaf sangat berhati-hati dalam masalah ikhlas. Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: "Tidak ada sesuatu yang lebih susah aku obati dari niatku, karena ia selalu berbolak-balik." Ini menunjukkan bahwa bahkan para ulama besar pun selalu berjuang untuk menjaga keikhlasan niat mereka. Seorang Muslim yang serius dalam menjalani agamanya harus selalu mengintrospeksi niatnya sebelum, selama, dan setelah melakukan amal.
Salah satu tanda ikhlas adalah seseorang tidak peduli apakah amalnya dilihat atau tidak dilihat orang lain. Ia beramal dengan kualitas yang sama baik ketika sendirian maupun di hadapan banyak orang. Bahkan, ia lebih suka jika amal baiknya tersembunyi dari penglihatan manusia, karena ia khawatir akan timbul rasa bangga atau riya. Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari berkata: "Jadikanlah amalmu sebagai kebun rahasia yang dijaga, yang tidak dimasuki kecuali orang-orang pilihan."
Ikhlas juga memiliki dimensi sosial yang penting. Seorang yang ikhlas tidak akan merasa dengki ketika orang lain mendapatkan pujian atau penghargaan atas suatu kebaikan, bahkan jika ia juga berkontribusi dalam kebaikan tersebut. Ia tidak membutuhkan pengakuan manusia karena ia yakin bahwa Allah Maha Mengetahui setiap amal yang dikerjakan. Dengan ikhlas, seorang Muslim akan bebas dari banyak penyakit hati seperti iri, dengki, dan rasa tidak puas. Ikhlas adalah kebebasan sejati, karena seseorang yang ikhlas hanya terikat kepada Allah, tidak kepada pandangan dan penilaian manusia. Inilah mengapa para ulama mengatakan bahwa ikhlas adalah mahkota dari semua amal kebaikan.
References in This Article
Related Articles
Adab — Islamic Etiquette and Manners
The Prophetic etiquettes for eating, drinking, sleeping, greeting, visiting, and social interaction.
Haya — Modesty in Islam
The comprehensive Islamic concept of modesty: in dress, speech, behavior, and the gaze. A branch of faith.
Tawbah — Repentance in Islam
The door of repentance: conditions for valid tawbah, major vs minor sins, and the infinite mercy of Allah.
Sabr — Patience in Islam
The virtue that encompasses all trials: patience in worship, patience from sin, and patience with Allah's decree.